Senin, 31 Maret 2014

bahasa daerah ( jawa )




BAB I   PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
      Kata orang bahasa jawa adalah bahasa yang njelimet dan susah dipelajari karena ada berbagai macam tingkatan. Padahal sebenarnya tidak jika dipelajari dengan baik dan seksama. Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa di Indonesia  salah satunya adalah Jawa Tengah. Dalam penggunaanya. Bahasa Jawa memiliki aksara sendiri yaitu aksara jawa, dialek yang berbeda dari tiap daerah, serta Unggah-ungguh basa yang berbeda.
Bahasa Jawa mengenal unggah-ungguh basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama (etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam sosiolinguistik, unggah-ungguh merupakan salah satu bentuk register.
Terdapat tiga bentuk utama variasi, yaitu ngoko (”kasar”), madya (”biasa”), dan krama (”halus”). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk “penghormatan” (ngajengake, honorific) dan “perendahan” (ngasorake, humilific). Seseorang dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial, atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Untuk mengetahui penjelasan selanjutnya, kami paparkan  dalam sebuah makalah yang berjudul “TINGKATAN BAHASA DALAM BAHASA JAWA (UNGGAH-UNGGUH BASA)”.
2.      RUMUSAN MASALAH
Untuk memudahkan pembahasannya maka akan dibahas sub masalah sesuai dengan latar belakang diatas yakni sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah bahasa Jawa ?
2. Mengapa penting untuk belajar unggah-ungguh basa dalam bahasa jawa?

BAB II TEORI DAN KONSEP
Dalam konteks studi ini bahasa itu merujuk pada bahasa Jawa yang merupakan bahasa sehari-hari bagi mayoritas masyarakat Jawa. Bahasa Jawa itu terdiri atas beberapa tingkat-tingkat tutur kata berbeda yang digunakan sesuai dengan pangkat atau posisi seseorang supaya menyampaikan rasa hormat kepada mereka sewaktu disapa. Sehingga rasa harmonis dilestarikan antara semua anggota masyarakat Jawa. Kedua tingkat tutur utama yang dipakai masyarakat Jawa adalah tingkat krama dan ngoko. Bahasa Jawa krama itu dipakai dalam situasi formal atau kalau dua orang asing bertemu yang ingin saling menyampaikan rasa hormat. Tetapi bahasa Jawa ngoko itu lebih kasar dan dianggap tidak formal dan cocok dipakai antara teman-teman atau dengan orang yang seseorang sudah intim.
Beberapa orang menyatakan kelanjutan penggunaan bahasa Jawa krama serta ngoko ke masa depan tergantung generasi muda sekarang. Serta apakah mereka ingin berusaha tetap memakai semua tingkat tutur bahasa Jawa ini dalam interaksi sehari-harinya dengan masyarakat Jawa. Selain itu, sudah menjadi tanggung jawab orang tua mengajar anak-anaknya tingkat tutur bahasa Jawa itu, bukan kaum muda yang nanti belajar di sekolah atau di tempat lain. Meninggalkan pertanggungjawaban pengajaran bahasa pada guru-guru sekolah itu tak cukup memastikan rasa intim dengan penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa yang kompleks ini. Di masa depan mungkin hanya segenggam orang yang mengingati semua peraturan dan cara pengucapan tingkat tutur bahasa Jawa krama ini walau mayoritas memakai bahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia saja.
       Belum tentu kalau di masa depan orang-orang akan terus-menerus memakai bahasa Jawa ngoko dan krama atau orang-orang akan bercenderung berfokus hanya pada pelajaran bahasa Indonesia atau mungkin bahasa lain seperti bahasa Inggris yang sekarang ini merupakan ketrampilan yang dicari para majikan. Kalau memfokuskan perubahan bahasa Jawa, harus diingat bahwa bahasa Jawa itu sebenarnya terdiri atas sembilan tingkat tutur (mungkin lebih?) dan di masa lampau secara luas dipakai masyarakat Jawa. Hanya karena perubahan terkait dengan modernisasi, kenaikan penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi serta perubahan dalam struktur masyarakat berarti belajar semua tingkat tutur itu dianggap tak penting lagi dan pembuangan waktu. Oleh karena itu, sebagaimana bahasa setempat itu berubah selaras dengan perkembangan masyarakat.


BAB III PEMBAHASAN
1.      SEJARAH BAHASA JAWA
Bahasa Jawa merupakan bahasa pertama penduduk Jawa yang tinggal di Propinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Lampung, sekitar Medan, daerah-daerah transmigrasi di Indonesia, di antaranya, sebagian Provinsi Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan beberapa tempat di luar negeri, yaitu Suriname, Belanda, New Caledonia, dan Pantai Barat Johor. Jumlah penutumya sekarang 75,5 juta. Di dunia terdapat 6.703 bahasa. Bahasa Jawa menempati urutan ke-11 dalam hal jumlah penutur terbanyak.
Bahasa Jawa secara diakronis berkembang dari bahasa Jawa Kuno. Bahasa Jawa Kuno berkembang dari bahasa Jawa Kuno Purba. Bahasa Jawa atau disebut bahasa Jawa Baru/Modern dipakai oleh masyarakat Jawa sejak sekitar abad 16 sampai sekarang. Berkembangnya bahasa Jawa Baru bersamaan dengan beralihnya kebudayaan Hindu-Budha-Jawa ke kebudayaan Islam-Jawa. Bahasa Jawa Baru, yang banyak mendapat pengaruh kosakata bahasa Arab, dipakai sebagai wahana baik lisan maupun tertulis dalam suasana kebudayaan Islam-Jawa.
Penduduk Jawa yang berpindah ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang cukup signifikan adalah : Lampung (61%), Bengkulu (25%), Sumatra Utara (antara 15%-25%). Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara ini, mereka merupakan keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan semenjak jaman penjajahan Belanda. Selain di kawasan Nusantara ataupun Malaysia. Masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan menyebar ke wilayah Guyana Perancis dan Venezuela.
Fonologi Dialek baku bahasa Jawa, yaitu yang didasarkan pada dialek Jawa Tengah, terutama dari sekitar kota Surakarta dan Yogyakarta memiliki fonem-fonem berikut: Vokal: Depan Tengah Belakang i u e Y o ([) (T) a
Konsonan: Labial Dental Alveolar Retrofleks Palatal Velar Glotal Eksplosiva p b t d ˆ V tƒ d’ k g ” Frikatif s (‚) h Likuida & semivokal w l r j Sengau m n (s) r K
Perhatian: Fonem-fonem antara tanda kurung merupakan alofon.
Penjelasan Vokal Tekanan kata (stress) direalisasikan pada suku kata kedua dari belakang, kecuali apabila sukukata memiliki sebuah pepet sebagai vokal. Pada kasus seperti ini, tekanan kata jatuh pada sukukata terakhir, meskipun sukukata terakhir juga memuat pepet. Apabila sebuah kata sudah diimbuhi dengan afiks, tekanan kata tetap mengikuti tekanan kata kata dasar.
Contoh: /jaran/ (kuda) dilafazkan sebagai [j'aran] dan /pajaranan/ (tempat kuda) dilafazkan sebagai [paj'aranan].
Semua vokal kecuali /Y/, memiliki alofon. Fonem /a/ pada posisi tertutup dilafazkan sebagai [a], namun pada posisi terbuka sebagai [T].
Contoh: /lara/ (sakit) dilafazkan sebagai [l'TrT], tetapi /larane/ (sakitnya) dilafazkan sebagai [l'arane]
Fonem /i/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [i] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih mirip [e].
Contoh: /panci/ dilafazkan sebagai [p'arci] , tetapi /kancil/ kurang lebih dilafazkan sebagai [k'arcel].
Fonem /u/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [u] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih mirip [o].
Contoh: /wulu/ (bulu) dilafazkan sebagai [w'ulu] , tetapi /ˆuyul/ (tuyul) kurang lebih dilafazkan sebagai [ˆ'uyol].
Fonem /e/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [e] namun pada posisi tertutup sebagai [[]. Contoh: /lele/ dilafazkan sebagai [l'ele] , tetapi /bebek/ dilafazkan sebagai [b'[b[”].
Fonem /o/ pada posisi terbuka dilafazkan sebagai [o] namun pada posisi tertutup sebagai [T]. Contoh: /loro/ dilafazkan sebagai [l'oro] , tetapi /boloK/ dilafazkan sebagai [b'TlTK].
Penjelasan Konsonan Fonem /k/ memiliki sebuah alofon. Pada posisi terakhir, dilafazkan sebagai [”]. Sedangkan pada posisi tengah dan awal tetap sebagai [k].
Fonem /n/ memiliki dua alofon. Pada posisi awal atau tengah apabila berada di depan fonem eksplosiva palatal atau retrofleks, maka fonem sengau ini akan berubah sesuai menjadi fonem homorgan. Kemudian apabila fonem /n/mengikuti sebuah /r/, maka akan menjadi [s] (fonem sengau retrofleks). Contoh: /panjaK/ dilafazkan sebagai [p'arjaK], lalu /anVap/ dilafazkan sebagai [”'asVap]. Kata /warna/ dilafazkan sebagai [w'arsT].
Fonem /s/ memiliki satu alofon. Apabila /s/ mengikuti fonem /r/ atau berada di depan fonem eksplosiva retrofleks, maka akan direalisasikan sebagai [‚]. Contoh: /warsa/ dilafazkan sebagai [w'ar‚T], lalu /esˆi/ dilafazkan sebagai [”'e‚ˆi].
Fonotaktik
Dalam bahasa Jawa baku, sebuah sukukata bisa memiliki bentuk seperti berikut: (n)-K1-(l)-V-K2.
Artinya ialah Sebagai berikut:
Ø  (n) adalah fonem sengau homorgan.
Ø  K1 adalah konsonan eksplosiva ata likuida.
Ø  (l) adalah likuida yaitu /r/ atau /l/, namun hanya bisa muncul kalau K1 berbentuk eksplosiva.
Ø  V adalah semua vokal. Tetapi apabila K2 tidak ada maka fonem /Y/ tidak bisa berada pada posisi ini.
Ø  K2 adalah semua konsonan kecuali eksplosiva palatal dan retrofleks; /c/, /j/, /ˆ/, dan /V/. Contoh:
ü  a
ü  an
ü  pan
ü  prang
ü  njlen
Dialek-Dialek Bahasa Jawa Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek, yakni :
v  Dialek daerah, dan
v  Dialek social.
     Karena bahasa ini terbentuk dari gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu, meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah, pengelompokannya mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya : "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura", The Hague: Martinus Nijhoff[1].
2.      UNGGAH - UNGGUH BASA
Bahasa Jawa secara global terbagi menjadi dua yaitu Basa Ngoko dan Basa Krama. Sedangkan untuk Basa Ngoko terdiri dari Basa Ngoko Lugu dan Basa Ngoko Alus, begitu juga dengan Basa Krama juga terbagi menjadi dua yaitu Basa Krama Lugu dan Basa Krama Alus.
a.      Basa Ngoko Lugu
Basa Krama Lugu digunakan untuk :
Ø  Bocah dengan bocah (teman sepermainan).
Ø  Orang tua kepada anak atau orang yang lebih muda.
Ø  Orang yang sudah sangat akrab.
Bahasa yang digunakan semua bahasa-bahasa ngoko.
Contoh:
1.      Anak-anak dengan temannya
Galang : “Fan, kowe wis mangan apa durung?” (Fan, kamu udah makan belum?)
Alfan  : “Durung, apa kowe wis ngelih?” (Belum, apa kamu sudah lapar?)
Keterangan: Kata “wis”, “mangan” dan “durung” adalah bentuk dari bahasa ngoko. Kata “wis” adalah bahasa lugu dari kata “sampun” untuk bahasa kramanya. Kata “maem: atau “mangan” digunakan pada tingkat tutur ngoko lugu dan lebih sering digunakan oleh subyek anak-anak. Kata dhahar dan nedha adalah kosakata makan yang dipakai pada ragam krama inggil, yaitu tingkat tutur yang dipakai ketika berbicara secara formal atau ketika berbicara kepada orang yang secara usia lebih tua, atau yang secara sosial mempunyai strata lebih tinggi. Meskipun digunakan pada ragam krama, kedua kata tersebut tidak dipakai secara sembarang. Kata dhahar dipakai apabila subyek kalimatnya berupa orang kedua atau orang ketiga, sedangkan nedha dipakai untuk subyek orang pertama. Sedangkan kata “durung” adalah basa ngoko turunan dari bahasa krama “dereng” yang penggunaannya lebih halus.
Ngoko
Krama Alus
Krama Inggil
Wis
Sampun
Sampun
Mangan
Dhahar
Nedha / Nedhi
Durung
Dereng
Dereng
2.      Orang tua kepada anak atau orang yang lebih muda
Bu Lita: “ Iya Lang, Fan, aja lali yen kowe wis bar sinau bareng mengko kudu turu awan ben bengine bisa sinau maneh!” (Iya Lang, Fan, jangan lupa kalau kalian selesai belajar nanti harus tidur siang supaya malamnya bias belajar lagi!)
Keterangan:
Kata “turu”, “bisa”, dan “maneh” adalah bahasa ngoko, yang mana sebutan untuk tidur, bisa, dan lagi dalam bahasa krama inggil, hierarki tertinggi dari “turu” adalah “sare”, “bisa” adalah “saged” dan “maneh” adalah “maleh”.

b.      Basa Ngoko Alus
Digunakan untuk orang yang sama tuanya tetapi masih saling menghormati satu sama lain. Umpamanya sesama Guru, Bapak /Ibu dengan sesama Bapak /Ibu. Basa Ngoko Alus juga digunakan untuk  anak muda kepada orang yang lebih tua namun pangkatnya dibawah anak muda tersebut dan juga digunakan oleh orang tua kepada orang yang lebih muda tetapi masih menghormati.
Cirinya adalah bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa ngoko campuran yaitu campuran dari bahasa krama/krama inggil. Bahasa-bahasa ngoko untuk diri sendiri memakai tembung kriya (kata kerja) untuk orang yang diajak berbicara menggunakan bahasa krama/krama inggil akan tetapi wuwuhannya (imbuhannya atau tambahannya) tetap bahasa ngoko.
Contoh:
Putri   : “Wis jam papat kok Pak Toto durung rawuh ya Tur?”
(Sudah jam empat kok Pak Toto belum datang ya Tur?)
Turi     : “Iya ya kamangka ngendikane wingi kae jam setengah papat para siswa kudu wis kumpul.” (Iya ya padahal katanya kemarin itu jam setengah empat para siswa sudah harus berkumpul”
Heri     : “Ora usah diparani mengko tindak Pak Toto kesandung-sandung” (Tidak usah disambangi nanti jalannya Pak Toto tersandung-sandung)
Heru : “Kae lho wis rawuh nitih motor anyar.” (Itu lho udah datang memakai/mengendarai motor baru.)
Keterangan:
Kata “durung” dan“rawuh”, “ngendikane” dan “papat”, “mengko” dan “tindak”, serta “wis” dan “nitih” adalah kosakata-kosakata campuran ngoko alus dan karma.
Ngoko
Krama Alus
Krama Inggil
Durung
Dereng
Dereng
Teka
Dugi
Rawuh
Ngomonge
Mature
Ngendikane
Papat
Sekawan
Sekawan
Mengko
Mangke
Mengkin
Mlaku
Tindak
Melampah
Wis
Sampun
Sampun
Numpak
Nitih
Nitih
c.       Basa Krama Lugu
Biasanya digunakan oleh orang yang baru saja bertemu untuk menghormati orang yang diajak bicara walaupun lawan bicaranya lebih muda. Cirinya adalah bahasa yang digunakan bahasa krama campur dengan bahasa ngoko.
Contoh:
Yanti   : “pak , sampean badhe kesah dhateng pundi?” (Mas, kamu mau pergi kemana?)
Parjo    : “Kula badhe dhateng Pekalongan.” (Aku mau ke Pekalongan)
Yanti    : “Sami, kula inggih badhe teng Pekalongan trus teng Batang. Mangke saking  terminal Pekalongan numpak napa malih nggih?” (Sama, aku juga mau pergi ke Pekalongan trus ke Batang. Nanti dari terminal Pekalongan naik apa lagi ya?)
Parjo  : “Yen sampean badhe teng Batang mangke numpak bus alit jurusan Batang.”   (Kalau kamu mau ke Batang nanti naik bus kecil jurusan Batang)
Yanti   : “Griya sampean niku pundi ta Pak?” (Rumah kamu itu dimana sih Pak?)
Parjo : “Griya kula Kandangserang.” (Rumahku di Kandangserang)
Keterangan:
Dalam bahasa lisan sering dijumpai kata-kata yang dipersingkat atau diperpendek, umumnya dari kata-kata “krama” atau kata-kata “madya”. Dalam dialog lisan, yang penting yang diajak berkomunikasi paham, mengejar cepat, dan ungkapan rasa secara spontan. Seperti kata “teng” diatas merupakan tembung Pawicantenan/cekakak (pemendekan kata) dari dhateng yang artinya “ke”.
Ngoko
Krama Alus
Krama Inggil
Aku
Kula
Kulo
Arep
Badhe
Badhe
Reng / Mareng
Datheng
Datheng
Cilik
Alit
Alit
Kowe
Sampean
Panjenengan
Omah
Griyo
Griya
Endi
Pundhi
Pundhi
Numpak
Nitih
Nitih
d.      Basa Krama Alus
Digunakan oleh anak ketika berbicara dengan orang tuanya, siswa yang berbicara dengan Gurunya dan dengan siapa saja yang dihormati sekali (umpamanya Para Pejabat).
Cirinya semua bahasanya menggunakan bahasa karama dan krama inggil, dan orang yang diajak bicara atau yang diajak rembug (musyawarah) memakai krama inggil.
Contoh:
Gigih       : “Bu Evi badhe tindak dhateng pundi?.” (Bu Evi mau pergi kemana?)
Evi     : “O...Gigih ta?Iki Gih, Bu Asih arep tindak menyang Purbalingga.” (O...Gigih ya?Ini Gih, Bu Asih mau pergi ke Purbalingga)
Gigih   : “Badhe nitih bis menapa, Bu?.” (Mau naik bis apa, Bu?)
Evi      : “Ibu arep nitih bis patas muncul ben cepet tur ora panas. Lha koe arep menyang  ngendi?” (Ibu arep numpak bis patas muncul biar cepat dan tidak panas. Lha kamu mau pergi kemana?)
Gigih  : “Kula nengga Andi, Tuti kaliyan Yuli, badhe tumbas pirantos piknik.” (Aku  nunggu Andi, Tuti sama Yuli, mau beli peralatan piknik)
Keterangan:
Bahasa yang digunakan Gigih kepada Bu Evi semuanya memakai bahasa Krama/Krama Inggil.
Ngoko
Kromo Alus
Kromo Inggil
Arep
Badhe
Badhe
Ngendi
Pundhi
Pundi
Apa
Nopo
Menopo
Numpak
Nitih
Nitih
Ngenteni
Nengga
Nengga
Tuku
Tumbas
Tumbas
Karo
Kaleh
Kaliyan
Piranti
Pirantos
Pirantos
3.      PENTINGNYA BELAJAR UNGGAH-UNGGUH BASA
Unggah-ungguh bahasa Jawa merupakan salah satu bagian bahasa Jawa yang mencermin-kan konsep kebudayaan Jawa.
Jika dibandingkan dengan bahasa di daerah lain, unggah-ungguh dalam bahasa Jawa merupakan yang paling rumit. Hal ini membuktikan bahwa betapa rumitnya kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, memahanii peranan dan mengelola kedudukan unggah-ungguh dalam bahasa Jawa tidak mungkin dapat mantap tanpa melihatnya dari sudut kebudayaan Jawa itu sendiri sebab dcngan cara memandang semacam kita memandang unggah-ungguh dalam bahasa Jawa bukan sekedar peristiwa bahasa belaka melainkan lebih sebagai peristiwa kemasyarakatan.
Tentu saja pandangan semacam itu mengandung keuntungan dan kerugiannya sendiri. Kerugian yang segera tampak ialah bahwa kita memandang unggah-ungguh tidak sebagai sesuatu yang terpisah, yang berdiri sendiri, sehingga kedudukan unggah-ungguh sebagai kesatuan kurang kita beri tempat sebagaimana mestinya; dan sikap ini tentu saja tidak begitu diterima oleh para ahli bahasa yang sangat akrab dsngan masalah unggah-ungguh. Namun, agar peranan unggah-ungguh dalam tata masyarakat Indonesia dapat diatur kembali, tentulah sikap tertutup harus ditinggalkan.
Bahasa jawa adalah bahasa yang mengandung tingkatan-tingkatan bagaimana kita berbicara dengan siapa lawan bicara kita yang masih ada tatanan kesopan santunan terhadap siapa lawan bicara kita, inilah yang unik bahwa kita berbicara tidak bisa sembarangan dengan lawan bicara kita, ada tatanan yang harus kita lakukan dalam berbicara dengan bahasa jawa tersebut, seperti yang kita bahas diatas. seperti Anak kepada teman bagaimana penyampaian bahasanya, dan anak kepada orang tua maupun orang yang baru dikenal harus menggunakan bahasa yang bagaimana, maka sangat penting sekali bagi kita untuk mengenal dan mempelajari bahasa jawa tersebut agar dikemudian hari apabila kita pergi ke pulau jawa khususnya jawa tengah kita bisa menerapkan bahasa tersebut.

BAB IV   PENUTUP
1.      KESIMPULAN
Betapapun sulitnya dalam penerapan ataupun pembelajaran unggah-ungguh basa namun harus selalu diupayakan mengingat hal-hal dibawah ini, yaitu:
1.      sebagai sarana untuk tetap melestarikan sopan santun, tata krama, etika Jawa sekaligus sebagai wahana melestarikan budaya Jawa,
2.      sebagai alat pendidikan kepada peserta didik dalam proses internalisasi diri dalam memenuhi kewajiban menghormati, menghargai tatanan yang sudah disepakati oleh masyarakat Jawa,
3.      sebagai sarana menunjukkan kepada dunia bahwa melalui unggah ungguh dapat membedakan dengan bangsa lain sehingga jati diri dan kehormatan bangsa terjaga,
4.      sebagai wahana pembentukan “nation culture and character building,” yakni pendidikan budaya yang membangun karakter bangsa melalui pengembangan nilai nilai budaya bangsa. Pembelajaran bahasa Jawa yang kreatif dan menyenangkan khususnya dalam penerapan unggah-ungguh dapat dimanfaatkan sebagai wahana pembentukan watak pekerti bangsa dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta internalisasi diri dalam budaya Jawa yang adhiluhung. Kesadaran bahwa penerapan unggah-ungguh mampu sebagai sarana penanaman budi pekeri luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara maka acting the good  itu berubah menjadi kebiasaan
“Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sifat berbudi bawa leksana“Ciri-ciri orang luhur ialah tingkah laku dan budi bahasa yang halus, keikhlasan hati, dan rela berkorban, tanpa mendahulukan kepentingan pribadi.” (Butir-butir Budaya Jawa)
2.      SARAN DAN KRITIK
Orang bilang bahasa daerah jawa yang saya gunakan dalam berdialog itu lucu dan mengandung unsur banyol atau humor karena pada saat saya berbicara walaupun dengan ucapan bahasa indonesia tetapi logat jawanya tetap ada orang yang mendengarkan tertawa dan menirukan logat saya , itu yang mungkin membuat orang tertawa karena bahasa dan logat saya terlihat dari mana saya berasal,
Saya bangga menggunakan bahasa jawa untuk berdialog sehari-hari, di acara-acara televisi seperti komedi sinetron dan perfilman sering saya lihat ada yang menggunakan logat dan bahasa jawa seperti yang saya gunakan,itu salah satu kebanggan tersendiri bagi saya dan itu adalah salah satu cara untuk melestarikan bahasa jawa supaya tidah hilang begitu saja.
Bahasa jawa sekarang sudah mulai hilang karena jarang sekali orang bisa menggunakan bahasa tersebut walaupun ditempatnya,bahasa yang sering digunakan dalam berdialog anak-anak atau remaja sekarang tetap bahasa indonesia.
Apakah bahasa jawa ini akan hilang dengan sendirinya  karena sudah tidak ada lagi yang berdialog dan mengerti atau mengenal bahasa jawa ?
Karena bahasa jawa yang masih kental dalam penggunaan bahasanya hanya orang tua, anak-anak dan remaja sekarang jarang sekali yang mengerti dan tahu bahasa jawa.
Marilah kita lestarikan bahasa jawa, kita gunakan untuk bahasa sehari-hari, Bahasa jawa yang sudah mulai pudar agar tetap exis dan terkenal sampai mancanegara.
3.      DAFTAR PUSTAKA
1.      Badaralam (2010). Undhak-Undhuk Basa Jawa. From http://badaralam.blogdetik.com/2010/12/08/undhak-undhuk-basa-jawa/, 21 Oktober 2012
2.      Khusnin (2008). Unggah-Unggah Bahasa Jawa Dan Implikasinya Pada Masyarakat. From http://khusnin.wordpress.com/2008/09/03/unggah-ungguh-bahasa-jawa/, 24 Oktober 2012
3.      Endang Rahayu MH., S.Pd.M.Pd (2011). Pembelajaran Bahasa Jawa Sebagai Wahana Pembelajaran Watak Pekerti Bangsa (Penerapan Unggah - Ungguh Berbahasa). From http://www.adjisaka.com/kbj5/index.php?option=com_content&view=article&id=1162:15-tembang-dolanan-anak-anak-berbahasa-jawa-sumber-pembentukan-watak-dan-budi-pekerti&catid=140:makalah-komisi-b&Itemid=999,29 Oktober 2012
4.      Susanto Handoyo, S.Pd, Nurisman, S.Pd, Cipto Suroso, S.Pd, Galih Mardi Yoga, S.Pd, Muji Astuti, S.Pd, Indah Duhriyah Ika, S.Pd,Drs.Budi Supono, Ana Sriningsih, S.Pd, Drs.Heru Wardhani, Muryati, S.Pd., Gladhi Basa Jawi, Klaten : Mitra Sekawan Klaten
5.      Hasil wawancara dengan Bapak Yasmungi, 26 Oktober 2013 (Tertua di Kampung)
   

PENYABAR, DAN APA ADANYA