BAB I PENDAHULUAN
1.
LATAR BELAKANG
Kata orang bahasa
jawa adalah bahasa yang njelimet dan susah dipelajari karena ada berbagai macam
tingkatan. Padahal sebenarnya tidak jika dipelajari dengan baik dan seksama.
Bahasa Jawa merupakan bahasa yang digunakan penduduk suku bangsa Jawa di
Indonesia salah satunya adalah Jawa
Tengah. Dalam penggunaanya. Bahasa Jawa memiliki aksara sendiri yaitu aksara
jawa, dialek yang berbeda dari tiap daerah, serta Unggah-ungguh basa yang
berbeda.
Bahasa Jawa
mengenal unggah-ungguh basa dan menjadi bagian integral dalam tata krama
(etiket) masyarakat Jawa dalam berbahasa. Dialek Surakarta biasanya menjadi
rujukan dalam hal ini. Bahasa Jawa bukan satu-satunya bahasa yang mengenal hal
ini karena beberapa bahasa Austronesia lain dan bahasa-bahasa Asia Timur
seperti bahasa Korea dan bahasa Jepang juga mengenal hal semacam ini. Dalam
sosiolinguistik, unggah-ungguh merupakan salah satu bentuk register.
Terdapat tiga
bentuk utama variasi, yaitu ngoko (”kasar”), madya (”biasa”), dan krama
(”halus”). Di antara masing-masing bentuk ini terdapat bentuk “penghormatan”
(ngajengake, honorific) dan “perendahan” (ngasorake, humilific). Seseorang
dapat berubah-ubah registernya pada suatu saat tergantung status yang
bersangkutan dan lawan bicara. Status bisa ditentukan oleh usia, posisi sosial,
atau hal-hal lain. Seorang anak yang bercakap-cakap dengan sebayanya akan
berbicara dengan varian ngoko, namun ketika bercakap dengan orang tuanya akan
menggunakan krama andhap dan krama inggil. Sistem semacam ini terutama dipakai
di Surakarta, Yogyakarta, dan Madiun. Dialek lainnya cenderung kurang memegang
erat tata-tertib berbahasa semacam ini.
Untuk mengetahui
penjelasan selanjutnya, kami paparkan dalam
sebuah makalah yang berjudul “TINGKATAN
BAHASA DALAM BAHASA JAWA (UNGGAH-UNGGUH BASA)”.
2.
RUMUSAN MASALAH
Untuk memudahkan
pembahasannya maka akan dibahas sub masalah sesuai dengan latar belakang
diatas yakni sebagai berikut :
1. Bagaimana sejarah bahasa Jawa ?
2. Mengapa penting untuk belajar
unggah-ungguh basa dalam bahasa jawa?
BAB II TEORI DAN KONSEP
Dalam konteks studi ini bahasa itu merujuk pada bahasa Jawa yang
merupakan bahasa sehari-hari bagi mayoritas masyarakat Jawa. Bahasa Jawa itu
terdiri atas beberapa tingkat-tingkat tutur kata berbeda yang digunakan sesuai
dengan pangkat atau posisi seseorang supaya menyampaikan rasa hormat kepada
mereka sewaktu disapa. Sehingga rasa harmonis dilestarikan antara semua anggota
masyarakat Jawa. Kedua tingkat tutur utama yang dipakai masyarakat Jawa adalah
tingkat krama dan ngoko. Bahasa Jawa krama itu dipakai dalam situasi formal
atau kalau dua orang asing bertemu yang ingin saling menyampaikan rasa hormat.
Tetapi bahasa Jawa ngoko itu lebih kasar dan dianggap tidak formal dan cocok
dipakai antara teman-teman atau dengan orang yang seseorang sudah intim.
Beberapa orang menyatakan kelanjutan penggunaan bahasa Jawa krama serta
ngoko ke masa depan tergantung generasi muda sekarang. Serta apakah mereka
ingin berusaha tetap memakai semua tingkat tutur bahasa Jawa ini dalam
interaksi sehari-harinya dengan masyarakat Jawa. Selain itu, sudah menjadi
tanggung jawab orang tua mengajar anak-anaknya tingkat tutur bahasa Jawa itu,
bukan kaum muda yang nanti belajar di sekolah atau di tempat lain. Meninggalkan
pertanggungjawaban pengajaran bahasa pada guru-guru sekolah itu tak cukup
memastikan rasa intim dengan penggunaan tingkat tutur bahasa Jawa yang kompleks
ini. Di masa depan mungkin hanya segenggam orang yang mengingati semua
peraturan dan cara pengucapan tingkat tutur bahasa Jawa krama ini walau
mayoritas memakai bahasa Jawa ngoko dan bahasa Indonesia saja.
Belum tentu kalau di masa depan orang-orang akan terus-menerus memakai bahasa Jawa ngoko dan krama atau orang-orang akan bercenderung berfokus hanya pada pelajaran bahasa Indonesia atau mungkin bahasa lain seperti bahasa Inggris yang sekarang ini merupakan ketrampilan yang dicari para majikan. Kalau memfokuskan perubahan bahasa Jawa, harus diingat bahwa bahasa Jawa itu sebenarnya terdiri atas sembilan tingkat tutur (mungkin lebih?) dan di masa lampau secara luas dipakai masyarakat Jawa. Hanya karena perubahan terkait dengan modernisasi, kenaikan penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi serta perubahan dalam struktur masyarakat berarti belajar semua tingkat tutur itu dianggap tak penting lagi dan pembuangan waktu. Oleh karena itu, sebagaimana bahasa setempat itu berubah selaras dengan perkembangan masyarakat.
Belum tentu kalau di masa depan orang-orang akan terus-menerus memakai bahasa Jawa ngoko dan krama atau orang-orang akan bercenderung berfokus hanya pada pelajaran bahasa Indonesia atau mungkin bahasa lain seperti bahasa Inggris yang sekarang ini merupakan ketrampilan yang dicari para majikan. Kalau memfokuskan perubahan bahasa Jawa, harus diingat bahwa bahasa Jawa itu sebenarnya terdiri atas sembilan tingkat tutur (mungkin lebih?) dan di masa lampau secara luas dipakai masyarakat Jawa. Hanya karena perubahan terkait dengan modernisasi, kenaikan penggunaan bahasa Indonesia sebagai sarana komunikasi serta perubahan dalam struktur masyarakat berarti belajar semua tingkat tutur itu dianggap tak penting lagi dan pembuangan waktu. Oleh karena itu, sebagaimana bahasa setempat itu berubah selaras dengan perkembangan masyarakat.
BAB III PEMBAHASAN
1.
SEJARAH BAHASA JAWA
Bahasa Jawa
merupakan bahasa
pertama penduduk Jawa yang tinggal di Propinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta,
Jawa Timur, Banten, Lampung, sekitar Medan, daerah-daerah transmigrasi di
Indonesia, di antaranya, sebagian Provinsi Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan
beberapa tempat di luar negeri, yaitu Suriname, Belanda, New Caledonia, dan
Pantai Barat Johor. Jumlah penutumya sekarang 75,5 juta. Di dunia terdapat
6.703 bahasa. Bahasa Jawa menempati urutan ke-11 dalam hal jumlah penutur
terbanyak.
Bahasa Jawa secara diakronis berkembang dari bahasa Jawa Kuno. Bahasa Jawa Kuno
berkembang dari bahasa Jawa Kuno Purba. Bahasa Jawa atau disebut bahasa Jawa
Baru/Modern dipakai oleh masyarakat Jawa sejak sekitar abad 16 sampai sekarang.
Berkembangnya bahasa Jawa Baru bersamaan dengan beralihnya kebudayaan
Hindu-Budha-Jawa ke kebudayaan Islam-Jawa. Bahasa Jawa Baru, yang banyak
mendapat pengaruh kosakata bahasa Arab, dipakai sebagai wahana baik lisan
maupun tertulis dalam suasana kebudayaan Islam-Jawa.
Penduduk Jawa
yang berpindah ke Malaysia turut membawa bahasa dan kebudayaan Jawa ke
Malaysia, sehingga terdapat kawasan pemukiman mereka yang dikenal dengan nama
kampung Jawa, padang Jawa. Di samping itu, masyarakat pengguna Bahasa Jawa juga
tersebar di berbagai wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Kawasan-kawasan luar Jawa yang didominasi etnis Jawa atau dalam persentase yang
cukup signifikan adalah : Lampung (61%), Bengkulu (25%), Sumatra Utara (antara
15%-25%). Khusus masyarakat Jawa di Sumatra Utara ini, mereka merupakan
keturunan para kuli kontrak yang dipekerjakan di berbagai wilayah perkebunan
tembakau, khususnya di wilayah Deli sehingga kerap disebut sebagai Jawa Deli
atau Pujakesuma (Putra Jawa Kelahiran Sumatera). Sedangkan masyarakat Jawa di
daerah lain disebarkan melalui program transmigrasi yang diselenggarakan
semenjak jaman penjajahan Belanda. Selain di kawasan Nusantara ataupun
Malaysia. Masyarakat Jawa juga ditemukan dalam jumlah besar di Suriname, yang
mencapai 15% dari penduduk secara keseluruhan, kemudian di Kaledonia Baru
bahkan sampai kawasan Aruba dan Curacao serta Belanda. Sebagian kecil bahkan
menyebar ke wilayah Guyana Perancis dan Venezuela.
Fonologi Dialek
baku bahasa Jawa, yaitu yang didasarkan pada dialek Jawa Tengah, terutama dari
sekitar kota Surakarta dan Yogyakarta memiliki fonem-fonem berikut: Vokal: Depan
Tengah Belakang i u e Y o ([) (T) a
Konsonan: Labial Dental Alveolar Retrofleks Palatal Velar Glotal Eksplosiva p b t d ˆ V tƒ d’ k g ” Frikatif s (‚) h Likuida & semivokal w l r j Sengau m n (s) r K Perhatian: Fonem-fonem antara tanda kurung merupakan alofon.
Konsonan: Labial Dental Alveolar Retrofleks Palatal Velar Glotal Eksplosiva p b t d ˆ V tƒ d’ k g ” Frikatif s (‚) h Likuida & semivokal w l r j Sengau m n (s) r K Perhatian: Fonem-fonem antara tanda kurung merupakan alofon.
Penjelasan Vokal Tekanan
kata (stress) direalisasikan pada suku kata kedua dari belakang, kecuali
apabila sukukata memiliki sebuah pepet sebagai vokal. Pada kasus seperti ini,
tekanan kata jatuh pada sukukata terakhir, meskipun sukukata terakhir juga
memuat pepet. Apabila sebuah kata sudah diimbuhi dengan afiks, tekanan kata
tetap mengikuti tekanan kata kata dasar.
Contoh: /jaran/ (kuda) dilafazkan
sebagai [j'aran] dan /pajaranan/ (tempat kuda) dilafazkan sebagai [paj'aranan].
Semua vokal
kecuali /Y/, memiliki alofon. Fonem /a/ pada posisi tertutup dilafazkan sebagai
[a], namun pada posisi terbuka sebagai [T].
Contoh: /lara/ (sakit) dilafazkan sebagai [l'TrT], tetapi /larane/ (sakitnya) dilafazkan sebagai [l'arane]
Contoh: /lara/ (sakit) dilafazkan sebagai [l'TrT], tetapi /larane/ (sakitnya) dilafazkan sebagai [l'arane]
Fonem /i/ pada posisi
terbuka dilafazkan sebagai [i] namun pada posisi tertutup lafaznya kurang lebih
mirip [e].
Contoh: /panci/ dilafazkan sebagai
[p'arci] , tetapi /kancil/ kurang lebih dilafazkan sebagai [k'arcel].
Fonem /u/ pada
posisi terbuka dilafazkan sebagai [u] namun pada posisi tertutup lafaznya
kurang lebih mirip [o].
Contoh: /wulu/ (bulu) dilafazkan
sebagai [w'ulu] , tetapi /ˆuyul/ (tuyul) kurang lebih dilafazkan sebagai
[ˆ'uyol].
Fonem /e/ pada
posisi terbuka dilafazkan sebagai [e] namun pada posisi tertutup sebagai [[].
Contoh: /lele/ dilafazkan sebagai [l'ele] , tetapi /bebek/ dilafazkan sebagai
[b'[b[”].
Fonem /o/ pada
posisi terbuka dilafazkan sebagai [o] namun pada posisi tertutup sebagai [T]. Contoh: /loro/
dilafazkan sebagai [l'oro] , tetapi /boloK/ dilafazkan sebagai [b'TlTK].
Penjelasan
Konsonan Fonem /k/ memiliki sebuah alofon. Pada posisi terakhir, dilafazkan
sebagai [”]. Sedangkan pada posisi tengah dan awal tetap sebagai [k].
Fonem /n/
memiliki dua alofon. Pada posisi awal atau tengah apabila berada di depan fonem
eksplosiva palatal atau retrofleks, maka fonem sengau ini akan berubah sesuai
menjadi fonem homorgan. Kemudian apabila fonem /n/mengikuti sebuah /r/, maka
akan menjadi [s] (fonem sengau retrofleks). Contoh: /panjaK/ dilafazkan sebagai
[p'arjaK], lalu /anVap/ dilafazkan sebagai [”'asVap]. Kata /warna/ dilafazkan
sebagai [w'arsT].
Fonem /s/
memiliki satu alofon. Apabila /s/ mengikuti fonem /r/ atau berada di depan
fonem eksplosiva retrofleks, maka akan direalisasikan sebagai [‚]. Contoh: /warsa/
dilafazkan sebagai [w'ar‚T], lalu /esˆi/ dilafazkan sebagai [”'e‚ˆi].
Fonotaktik
Dalam bahasa Jawa baku, sebuah sukukata bisa memiliki bentuk seperti berikut: (n)-K1-(l)-V-K2. Artinya ialah Sebagai berikut:
Dalam bahasa Jawa baku, sebuah sukukata bisa memiliki bentuk seperti berikut: (n)-K1-(l)-V-K2. Artinya ialah Sebagai berikut:
Ø (n) adalah fonem sengau homorgan.
Ø K1 adalah konsonan eksplosiva ata likuida.
Ø (l) adalah likuida yaitu /r/ atau /l/, namun hanya bisa muncul kalau
K1 berbentuk eksplosiva.
Ø V adalah semua vokal. Tetapi apabila K2 tidak ada maka fonem /Y/
tidak bisa berada pada posisi ini.
Ø K2 adalah semua konsonan kecuali eksplosiva palatal dan retrofleks;
/c/, /j/, /ˆ/, dan /V/. Contoh:
ü a
ü an
ü pan
ü prang
ü njlen
Dialek-Dialek
Bahasa Jawa Bahasa Jawa pada dasarnya terbagi atas dua klasifikasi dialek,
yakni :
v Dialek daerah, dan
v Dialek social.
Karena bahasa ini terbentuk dari
gradasi-gradasi yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia maupun Melayu,
meskipun tergolong rumpun Austronesia. Sedangkan dialek daerah ini didasarkan
pada wilayah, karakter dan budaya setempat. Perbedaan antara dialek satu dengan
dialek lainnya bisa antara 0-70%. Untuk klasifikasi berdasarkan dialek daerah,
pengelompokannya mengacu kepada pendapat E.M. Uhlenbeck, 1964, di dalam bukunya
: "A Critical Survey of Studies on the Languages of Java and Madura",
The Hague: Martinus Nijhoff[1].
2.
UNGGAH - UNGGUH BASA
Bahasa Jawa
secara global terbagi menjadi dua yaitu Basa Ngoko dan Basa Krama. Sedangkan
untuk Basa Ngoko terdiri dari Basa Ngoko Lugu dan Basa Ngoko Alus, begitu juga
dengan Basa Krama juga terbagi menjadi dua yaitu Basa Krama Lugu dan Basa Krama
Alus.
a.
Basa Ngoko Lugu
Basa Krama Lugu digunakan untuk :
Ø Bocah dengan bocah (teman sepermainan).
Ø Orang tua kepada anak atau orang yang lebih muda.
Ø Orang yang sudah sangat akrab.
Bahasa yang digunakan semua
bahasa-bahasa ngoko.
Contoh:
1.
Anak-anak dengan temannya
Galang : “Fan, kowe wis mangan
apa durung?” (Fan, kamu udah makan belum?)
Alfan : “Durung, apa kowe wis ngelih?” (Belum, apa kamu sudah lapar?)
Keterangan: Kata “wis”, “mangan” dan
“durung” adalah bentuk dari bahasa ngoko. Kata “wis” adalah bahasa lugu dari
kata “sampun” untuk bahasa kramanya. Kata “maem: atau “mangan” digunakan
pada tingkat tutur ngoko lugu dan lebih sering digunakan oleh subyek anak-anak.
Kata dhahar dan nedha adalah kosakata makan yang dipakai pada ragam krama
inggil, yaitu tingkat tutur yang dipakai ketika berbicara secara formal atau
ketika berbicara kepada orang yang secara usia lebih tua, atau yang secara
sosial mempunyai strata lebih tinggi. Meskipun digunakan pada ragam krama,
kedua kata tersebut tidak dipakai secara sembarang. Kata dhahar dipakai apabila
subyek kalimatnya berupa orang kedua atau orang ketiga, sedangkan nedha dipakai
untuk subyek orang pertama. Sedangkan kata “durung” adalah basa ngoko turunan
dari bahasa krama “dereng” yang penggunaannya lebih halus.
|
Ngoko
|
Krama Alus
|
Krama Inggil
|
|
Wis
|
Sampun
|
Sampun
|
|
Mangan
|
Dhahar
|
Nedha / Nedhi
|
|
Durung
|
Dereng
|
Dereng
|
2.
Orang tua kepada anak atau orang yang lebih muda
Bu Lita: “ Iya Lang, Fan, aja lali
yen kowe wis bar sinau bareng mengko kudu turu awan ben bengine bisa sinau maneh!”
(Iya Lang, Fan, jangan lupa kalau kalian selesai belajar nanti harus tidur
siang supaya malamnya bias belajar lagi!)
Keterangan:
Kata “turu”, “bisa”, dan “maneh”
adalah bahasa ngoko, yang mana sebutan untuk tidur, bisa, dan lagi dalam bahasa
krama inggil, hierarki tertinggi dari “turu” adalah “sare”, “bisa” adalah
“saged” dan “maneh” adalah “maleh”.
b.
Basa Ngoko Alus
Digunakan untuk orang yang sama tuanya tetapi masih saling menghormati satu
sama lain. Umpamanya sesama Guru, Bapak /Ibu dengan sesama Bapak /Ibu. Basa
Ngoko Alus juga digunakan untuk anak
muda kepada orang yang lebih tua namun pangkatnya dibawah anak muda tersebut
dan juga digunakan oleh orang tua kepada orang yang lebih muda tetapi masih
menghormati.
Cirinya adalah bahasa yang digunakan adalah bahasa-bahasa ngoko campuran
yaitu campuran dari bahasa krama/krama inggil. Bahasa-bahasa ngoko untuk diri
sendiri memakai tembung kriya (kata kerja) untuk orang yang diajak berbicara menggunakan
bahasa krama/krama inggil akan tetapi wuwuhannya (imbuhannya atau tambahannya)
tetap bahasa ngoko.
Contoh:
Putri : “Wis jam papat kok Pak Toto
durung rawuh ya Tur?”
(Sudah jam empat kok Pak Toto belum datang ya Tur?)
Turi : “Iya ya kamangka ngendikane
wingi kae jam setengah papat para siswa kudu wis kumpul.” (Iya ya padahal
katanya kemarin itu jam setengah empat para siswa sudah harus berkumpul”
Heri : “Ora usah diparani mengko tindak Pak
Toto kesandung-sandung” (Tidak usah disambangi nanti jalannya Pak Toto
tersandung-sandung)
Heru : “Kae lho
wis rawuh nitih motor anyar.” (Itu lho udah datang memakai/mengendarai motor
baru.)
Keterangan:
Kata “durung”
dan“rawuh”, “ngendikane” dan “papat”, “mengko” dan “tindak”, serta “wis” dan
“nitih” adalah kosakata-kosakata campuran ngoko alus
dan karma.
|
Ngoko
|
Krama Alus
|
Krama Inggil
|
|
Durung
|
Dereng
|
Dereng
|
|
Teka
|
Dugi
|
Rawuh
|
|
Ngomonge
|
Mature
|
Ngendikane
|
|
Papat
|
Sekawan
|
Sekawan
|
|
Mengko
|
Mangke
|
Mengkin
|
|
Mlaku
|
Tindak
|
Melampah
|
|
Wis
|
Sampun
|
Sampun
|
|
Numpak
|
Nitih
|
Nitih
|
c.
Basa Krama Lugu
Biasanya digunakan oleh orang yang baru saja bertemu untuk menghormati
orang yang diajak bicara walaupun lawan bicaranya lebih muda. Cirinya adalah
bahasa yang digunakan bahasa krama campur dengan bahasa ngoko.
Contoh:
Yanti : “pak , sampean badhe kesah dhateng pundi?”
(Mas, kamu mau pergi kemana?)
Parjo : “Kula badhe dhateng Pekalongan.” (Aku mau
ke Pekalongan)
Yanti :
“Sami, kula inggih badhe teng Pekalongan trus teng Batang. Mangke saking terminal Pekalongan numpak napa malih nggih?”
(Sama, aku juga mau pergi ke Pekalongan trus ke Batang. Nanti dari terminal
Pekalongan naik apa lagi ya?)
Parjo : “Yen sampean badhe teng Batang mangke numpak
bus alit jurusan Batang.” (Kalau kamu mau ke Batang nanti naik bus kecil
jurusan Batang)
Yanti : “Griya sampean niku pundi ta Pak?” (Rumah
kamu itu dimana sih Pak?)
Parjo : “Griya
kula Kandangserang.” (Rumahku di Kandangserang)
Keterangan:
Dalam bahasa
lisan sering dijumpai kata-kata yang dipersingkat atau diperpendek, umumnya
dari kata-kata “krama” atau kata-kata “madya”. Dalam dialog lisan, yang penting
yang diajak berkomunikasi paham, mengejar cepat, dan ungkapan rasa secara
spontan. Seperti kata “teng” diatas merupakan tembung Pawicantenan/cekakak (pemendekan kata) dari dhateng
yang artinya “ke”.
|
Ngoko
|
Krama
Alus
|
Krama
Inggil
|
|
Aku
|
Kula
|
Kulo
|
|
Arep
|
Badhe
|
Badhe
|
|
Reng /
Mareng
|
Datheng
|
Datheng
|
|
Cilik
|
Alit
|
Alit
|
|
Kowe
|
Sampean
|
Panjenengan
|
|
Omah
|
Griyo
|
Griya
|
|
Endi
|
Pundhi
|
Pundhi
|
|
Numpak
|
Nitih
|
Nitih
|
d.
Basa Krama Alus
Digunakan oleh anak ketika berbicara dengan orang tuanya, siswa yang
berbicara dengan Gurunya dan dengan siapa saja yang dihormati sekali (umpamanya
Para Pejabat).
Cirinya semua bahasanya menggunakan bahasa karama dan krama inggil, dan
orang yang diajak bicara atau yang diajak rembug (musyawarah) memakai krama
inggil.
Contoh:
Gigih :
“Bu Evi badhe tindak dhateng pundi?.” (Bu Evi mau pergi kemana?)
Evi : “O...Gigih ta?Iki Gih, Bu Asih arep
tindak menyang Purbalingga.” (O...Gigih ya?Ini Gih, Bu Asih mau pergi ke
Purbalingga)
Gigih : “Badhe nitih bis menapa, Bu?.” (Mau naik
bis apa, Bu?)
Evi : “Ibu arep nitih bis patas muncul ben
cepet tur ora panas. Lha koe arep menyang ngendi?” (Ibu arep numpak bis patas muncul
biar cepat dan tidak panas. Lha kamu mau pergi kemana?)
Gigih : “Kula nengga Andi, Tuti kaliyan Yuli, badhe
tumbas pirantos piknik.” (Aku nunggu
Andi, Tuti sama Yuli, mau beli peralatan piknik)
Keterangan:
Bahasa yang
digunakan Gigih kepada Bu Evi semuanya memakai bahasa Krama/Krama Inggil.
|
Ngoko
|
Kromo Alus
|
Kromo Inggil
|
|
Arep
|
Badhe
|
Badhe
|
|
Ngendi
|
Pundhi
|
Pundi
|
|
Apa
|
Nopo
|
Menopo
|
|
Numpak
|
Nitih
|
Nitih
|
|
Ngenteni
|
Nengga
|
Nengga
|
|
Tuku
|
Tumbas
|
Tumbas
|
|
Karo
|
Kaleh
|
Kaliyan
|
|
Piranti
|
Pirantos
|
Pirantos
|
3.
PENTINGNYA BELAJAR UNGGAH-UNGGUH BASA
Unggah-ungguh bahasa Jawa merupakan salah satu bagian bahasa Jawa yang mencermin-kan
konsep kebudayaan Jawa.
Jika dibandingkan
dengan bahasa di daerah lain, unggah-ungguh dalam bahasa Jawa merupakan yang paling
rumit. Hal ini membuktikan bahwa betapa rumitnya kebudayaan Jawa. Oleh karena
itu, memahanii peranan dan mengelola kedudukan unggah-ungguh dalam bahasa Jawa
tidak mungkin dapat mantap tanpa melihatnya dari sudut kebudayaan Jawa itu
sendiri sebab dcngan cara memandang semacam kita memandang unggah-ungguh dalam
bahasa Jawa bukan sekedar peristiwa bahasa belaka melainkan lebih sebagai
peristiwa kemasyarakatan.
Tentu saja
pandangan semacam itu mengandung keuntungan dan kerugiannya sendiri. Kerugian
yang segera tampak ialah bahwa kita memandang unggah-ungguh tidak sebagai sesuatu
yang terpisah, yang berdiri sendiri, sehingga kedudukan unggah-ungguh sebagai
kesatuan kurang kita beri tempat sebagaimana mestinya; dan sikap ini tentu saja
tidak begitu diterima oleh para ahli bahasa yang sangat akrab dsngan masalah
unggah-ungguh. Namun, agar peranan unggah-ungguh dalam tata masyarakat
Indonesia dapat diatur kembali, tentulah sikap tertutup harus ditinggalkan.
Bahasa jawa adalah bahasa yang mengandung tingkatan-tingkatan bagaimana
kita berbicara dengan siapa lawan bicara kita yang masih ada tatanan kesopan
santunan terhadap siapa lawan bicara kita, inilah yang unik bahwa kita berbicara
tidak bisa sembarangan dengan lawan bicara kita, ada tatanan yang harus kita
lakukan dalam berbicara dengan bahasa jawa tersebut, seperti yang kita bahas
diatas. seperti Anak kepada teman bagaimana penyampaian bahasanya, dan anak
kepada orang tua maupun orang yang baru dikenal harus menggunakan bahasa yang
bagaimana, maka sangat penting sekali bagi kita untuk mengenal dan mempelajari
bahasa jawa tersebut agar dikemudian hari apabila kita pergi ke pulau jawa
khususnya jawa tengah kita bisa menerapkan bahasa tersebut.
BAB IV PENUTUP
1.
KESIMPULAN
Betapapun sulitnya dalam penerapan ataupun pembelajaran unggah-ungguh basa namun harus selalu diupayakan
mengingat hal-hal dibawah ini, yaitu:
1. sebagai sarana untuk tetap melestarikan sopan
santun, tata krama, etika Jawa sekaligus sebagai wahana melestarikan budaya
Jawa,
2. sebagai alat pendidikan kepada peserta didik
dalam proses internalisasi diri dalam memenuhi kewajiban menghormati,
menghargai tatanan yang sudah disepakati oleh masyarakat Jawa,
3. sebagai sarana menunjukkan kepada dunia bahwa
melalui unggah ungguh dapat membedakan dengan bangsa lain sehingga jati diri dan
kehormatan bangsa terjaga,
4. sebagai wahana pembentukan “nation culture
and character building,” yakni pendidikan budaya yang membangun karakter bangsa
melalui pengembangan nilai nilai budaya bangsa. Pembelajaran bahasa Jawa yang
kreatif dan menyenangkan khususnya dalam penerapan unggah-ungguh dapat
dimanfaatkan sebagai wahana pembentukan watak pekerti bangsa dan mampu
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari serta internalisasi diri dalam
budaya Jawa yang adhiluhung. Kesadaran bahwa penerapan unggah-ungguh mampu
sebagai sarana penanaman budi pekeri luhur dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara maka acting the good itu berubah menjadi kebiasaan
“Titikane
aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sifat
berbudi bawa leksana” “Ciri-ciri orang luhur
ialah tingkah laku dan budi bahasa yang halus, keikhlasan hati, dan rela
berkorban, tanpa mendahulukan kepentingan pribadi.” (Butir-butir Budaya Jawa)
2.
SARAN DAN KRITIK
Orang bilang bahasa daerah jawa yang saya gunakan dalam berdialog itu lucu
dan mengandung unsur banyol atau humor karena pada saat saya berbicara walaupun
dengan ucapan bahasa indonesia tetapi logat jawanya tetap ada orang yang
mendengarkan tertawa dan menirukan logat saya , itu yang mungkin membuat orang
tertawa karena bahasa dan logat saya terlihat dari mana saya berasal,
Saya bangga menggunakan bahasa jawa untuk berdialog sehari-hari, di
acara-acara televisi seperti komedi sinetron dan perfilman sering saya lihat
ada yang menggunakan logat dan bahasa jawa seperti yang saya gunakan,itu salah
satu kebanggan tersendiri bagi saya dan itu adalah salah satu cara untuk
melestarikan bahasa jawa supaya tidah hilang begitu saja.
Bahasa jawa sekarang sudah mulai hilang karena jarang sekali orang bisa menggunakan
bahasa tersebut walaupun ditempatnya,bahasa yang sering digunakan dalam
berdialog anak-anak atau remaja sekarang tetap bahasa indonesia.
Apakah bahasa jawa ini akan hilang dengan sendirinya karena sudah tidak ada lagi yang berdialog dan
mengerti atau mengenal bahasa jawa ?
Karena bahasa jawa yang masih kental dalam penggunaan bahasanya hanya orang
tua, anak-anak dan remaja sekarang jarang sekali yang mengerti dan tahu bahasa
jawa.
Marilah kita lestarikan bahasa jawa, kita gunakan untuk bahasa sehari-hari,
Bahasa jawa yang sudah mulai pudar agar tetap exis dan terkenal sampai
mancanegara.
3. DAFTAR PUSTAKA
1. Badaralam (2010). Undhak-Undhuk Basa Jawa. From http://badaralam.blogdetik.com/2010/12/08/undhak-undhuk-basa-jawa/,
21 Oktober 2012
2. Khusnin (2008). Unggah-Unggah Bahasa Jawa Dan Implikasinya Pada
Masyarakat. From http://khusnin.wordpress.com/2008/09/03/unggah-ungguh-bahasa-jawa/,
24 Oktober 2012
3. Endang Rahayu MH., S.Pd.M.Pd (2011). Pembelajaran
Bahasa Jawa Sebagai Wahana Pembelajaran Watak Pekerti Bangsa (Penerapan Unggah
- Ungguh Berbahasa). From http://www.adjisaka.com/kbj5/index.php?option=com_content&view=article&id=1162:15-tembang-dolanan-anak-anak-berbahasa-jawa-sumber-pembentukan-watak-dan-budi-pekerti&catid=140:makalah-komisi-b&Itemid=999,29
Oktober 2012
4. Susanto Handoyo, S.Pd, Nurisman, S.Pd, Cipto
Suroso, S.Pd, Galih Mardi Yoga, S.Pd, Muji Astuti, S.Pd, Indah Duhriyah Ika,
S.Pd,Drs.Budi Supono, Ana Sriningsih, S.Pd, Drs.Heru Wardhani, Muryati, S.Pd.,
Gladhi Basa Jawi, Klaten : Mitra Sekawan Klaten
5. Hasil wawancara dengan Bapak Yasmungi, 26 Oktober 2013 (Tertua di Kampung)
