HIKMAH SEBUAH PERJUANGAN
Kisah
ini terjadi sekitar 23 tahun yang lalu, pada saat itu saya masih duduk di
bangku SD yang tepatnya di SDN yang ada di Desa Maos lor, Cilacap, Jawa tengah
yang letaknya jauh dari rumah ke sekolah, ke sekolah berjalan kaki dengan
sepatu yang sudah robek, dengan perut kosong karena tidak ada sarapan pagi tiap
hari serta terkadang tidak membawa uang jajan.
Ini
mungkin cerita yang dianggap orang hanya angin lalu, dan mungkin terjadi pada
seseorang yang telah sukses menjadi orang kaya maupun ternama, mereka ceritakan
pengalaman hidup nya yang pahit dahulu,setelah meraih kesuksesanya menjadi
orang kaya maupun terkenal, tapi ini adalah kisah untuk memotivasi sampai
sekarang ini dan menjadi sebuah kenangan supaya selalu ingat darimana dulu saya
berasal.
Saya
dilahirkan dari golongan orang yang tak mampu dan bisa dibilang paling miskin di sekitar rumah atau dilingkungan saya
dilahirkan, karena setiap hari orang tua selalu bingung mencari uang yang sekedar
buat makan sehari walau cuma sekali makan saja, dan saya mengerti apa yang di
rasakan orang tua, terkadang terbesit dalam hati pertanyaan-pertanyaan yang
membuat aku putus asa, dan sedih, kenapa aku dilahirkan dari orang tua yang
tidak punya ?, kenapa saya tidak dilahirkan dari orang tua yang kaya raya ?,
jadi saya bisa meminta apapun yang saya inginkan, itulah yang terkadang selalu
mengganggu dipikiran ku, jangankan untuk membeli baju baru untuk sekolah, untuk
makan sehari-hari saja susah. Saya berusaha menepis rasa itu, yang terkadang
selalu selalu mengganggu dipikiran saya ini, tetapi saya terus berusaha untuk tegar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan
yang ada, karena perjalanan saya masih panjang saat itu dan berusaha untuk
mengejar harapan cita-cita tanpa merepotkan orang tua.
Ibu
saya seorang ibu rumah tangga dan terkadang membantu memenuhi kebutuhan dirumah
yaitu berjualan baju-baju bekas, itu juga kalau ada tetangga yang menyuruh
untuk menjualnya ke pasar, dan dari situ ibu saya mendapatkan upah yang lumayan
buat makan keluarga, Bapak saya seorang pedagang bubur kacang hijau keliling,
kalau ibu tidak ada yang menyuruh maka kami sekeluarga harus menunggu Bapak
saya pulang Jualan untuk makan sekali dalam sehari itu. ini yang membuat saya
sedih sampai sekarang, banyak orang yang, banyak orang yang kelebihan makan
sampai makanan di buang sedangkan saya harus menahan lapar sampai orang tua
pulang berjualan bubur baru bisa makan. paling senang sekali saat itu adalah apabila
bapak disuruh kenduri dirumah tetangga dan pasti pulang membawa makanan banyak,
ada makan malam enak yang saya anggap itu adalah pesta besar keluarga saya,
walaupun harus berebut lauk sama kakak dan adik-adik say, tapi itu sangat
menyenangkan sekali dan itu jarang sekali terjadi di keluarga saya.
Inilah
kisah yang akan saya ceritakan, saya selalu ingat kenangan-kenangan pahit dulu
pada hari senin waktu itu saya berangkat sekolah karena sudah terbiasa tidak
sarapan pagi dan tidak membawa uang jajan dan memang tidak ada, saya tidak tahu
hari itu begitu lemas sekali badan, mungkin karena kecapean karena setiap
pulang sekolah kalau sungai surut pasti saya ikut membantu bapak mikul pasir masalah bagi saya tidak sarapan pagi dan tidak
membawa uang jajan, karena melihat orang tua selalu kesusahan mencari uang buat
makan jadi saya harus siap menerima apa yang ada, karena saya selalu ingat kata
guru ngaji saya bahwa “hidup ini hanya sementar terimalah apa yang ada di
kehidupan mu dan teruslah berjuang untuk meraih kehidupan yang lebih baik, dan
Alloh swt suka dengan hamba yang diberikan kemiskinan dia selalu bersabar dan
diberikan sedikit dia bersyukur, jadilah kamu anak yang pandai bersyukur,
insyaalloh kamu akan bisa menggapai
harapanmu, terus lah berjuang dan berjuang jangan pernah menyerah dengan
kehidupan ini dan takutlah kepada Alloh swt apabila kamu akan melakukan sesuatu
yang dilarang oleh agamamu” itulah yang
menjadi pendorong saya untuk maju kedepan dengan tidak mengeluh dan putus asa dalam
menjalani kehidupan ini walau seberat apapun pasti kita mampu. Kembali ke
cerita, saat teriknya matahari menyinari ku aku merasa pusing dan tidak sadar
badan ini akan terjatuh untung di sebelah saya ada pak guru dan langsung di
pegang sama pak guru dan:
pak guru bertanya: “
jum, kamu tidak apa-apa? “
saya : “ saya tidak apa apa pak.”
Pak guru : “ kalau kamu sakit biar baca doanya
nanti diganti sama yang lain “
Saya : “ saya tidak apa-apa pak, beneran
saya baik-baik saja, terimakasih pak, biar saya saja yang tetap membaca do’anya
nanti pak”
Pak
guru : “ oh ya sudah kalau begitu, kalau kamu baik-baik saja”
Setelah
itu pak guru berbisik pada Ibu guru wali kelas saya, dan saya tidak tahu apa
yang dibicarakan, yang jelas saat itu perasaan dan perut saya sudah tidak
karuan sekali, ahirnya datang juga waktu membaca doa, dan aku pun dengan segera
membaca doa, karena saat itu perasaan yang tidak karuan saya dalam membaca doa
pun sambil menangis karena terbawa perasaan air mata menetes tidak terasa dan
nada membaca doapun menjadi sendu dan sedikit serak, setelah selesai membca doa
aku berjalan mundur kebarisan semula, kepala semakin tidak karuan dan aku pun
terjatuh tetapi tidak pingsan hanya lemas yang aku rasakan, akhirnya aku
diangkat pak guru masuk ke ruang UKS untuk di obati, ibu wali kelas juga ikut
ke ruang UKS, dan :
Ibu guru bertanya :“
kamu kenapa jum, kamu sakit apa? Muka kamu pucat sekali”
Saya :“ saya cuma pusing biasa saja bu, saya
tidak apa-apa,bu”
Ibu
guru :“pasti kamu tidak
sarapan pagi lagi, kan ibu dah bilang setiap mau berangkat
sekolah itu kamu sarapan pagi dulu, biar kamu tidak lemas dan sakit kayak
begini”
Saya
:“tidak apa-apa bu,
bentar lagi juga sehat bu”
Ibu
guru :“jum jum kamu tuh
memang bandel di bilangin ya?( sambil geleng-geleng kepala) ,Tiyo, tolong Jumadi belikan roti,ini uangnya
( sambil memberikan uang ke tiyo)”
Tiyo :“ iya bu, siap bu”
Ibu
guru berbicara lagi disaat tinggal saya dan ibu guru saja, ibu guru bertanya
:“
kamu itu jujur saja sama ibu, bilang apa yang kamu pikirkan, ibu tahu kamu anak
pintar, baik, dan paling pendiam dikelas, jujur saja sama ibu, apa yang terjadi
di keluarga mu, mungkin ibu bisa bantu, kamu sudah ibu anggap sebagai anak ibu
sendiri, bicaralah sama ibu”
Saya
mendengar kata-kata Ibu guru menjadi tsedih dan aku jadi meneteskan air mata,
tetapi tetap saya tutupi apa yang menjadi kekurangan di rumah saya “ ibu, maaf
sekali saya tidak apa-apa bu, terima kasih ibu sudah menganggap saya sebagai
anak ibu, saya senang sekali” dalam hati saya biarkan itu menjadi rahasia dan beban saya, saya tidak mau orang lain
terbebani masalah keluarga saya
Ibu
guru :“ kamu ini memang
anak baik, ibu kamu pasti senang punya anak seperti kamu, tidak pernah minta
jajan, tidak pernah mengeluh dengan apa yang ada dan kamu tetap tenang dengan
keadaanmu itu, ibu bangga sama kamu jum, iuran SPP bulanan kamu saya dengar
belom pernah dibayar dari kelas 1 (satu) sampai kelas 3 (tiga), kenapa kamu
tidak meminta orang tua kamu meminta surat miskin saja, supaya kamu Gratis
biaya sekolahnya, maaf kalau ibu menyinggung perasaan kamu, tapi ibu
bener-bener mau membentu biarkan buku-buku cetak pembelajaran ibu yang bayarin
dan buku tulis kamu ibu akan bantu, tetapi SPP itu hanya orang tua kamu yang
bisa membuat surat miskin atau membayarnya”
Saya
: “ terimakasih bu,
mudah-mudahan semua apa yang ibu berikan kepada saya, akan dibalas
berlipat-lipat sama Alloh swt, amin, iya Ibu ntar saya sampaikan itu kepada
Orang Tua saya”
Dalam perjalanan pulang sekolah, dengan perut
lapar dan panasnya matahari saat itu saya berjalan pulang, berharap sampai
dirumah nanti ada makanan yang bisa saya makan, sampai dirumah, bapak saya
belum pulang dari jualan, Ibu saya tidak tahu kemana, rumah sepi tiada orang,
lalu saya melepas baju seragam yang sudah lusuh dan bau, lalu mengambil air
wdhu dan melakukan sholat dhuhur, setelah itu baru saya ke dapur untuk makan
siang, tetapi saya lihat belum ada apapun di meja makan, daripada saya menahan
lapar saya langsung kekamar untuk tidur daripada saya menahan lapar yang tidak
tentu, dalam tiduran itu saya berpikir bagaimana cara menyampaikan masalah Pembayaran
SPP ke orang tua, untuk makan saja susah seperti ini, bagaiamana agar supaya
orang tua tidak marah dan sakit hati dalam menyampaikan pembayaran SPP nya, dan
sore itu juga saya beranikan diri menyampaikannya ke orang tua walaupun berat
rasanya :
Saya : “pak, saya mau bicara, boleh ?”
Bapak : “ ada apa jum?”
Saya
:“ini pak, bagaimana soal
pembayaran sekolah yang nunggak dari kelas satu sampai sekarang, bapak belum
juga membayarnya, saya malu sama temen-temen dan ibu guru soal tunggakan
pembayaran SPP pak, kalau bapak ga mampu bayar, ibu guru nyaranin, bapak di
sarankan buat surat miskin ke kantor desa pak, supaya sekolah saya gratis tanpa
biaya apapun”
Bapak :“iya ntar bapak coba cari
pinjaman dulu buat biaya sekolah kamu, bapak juga pusing jum, nyari duit buat
makan adik-adik kamu aja susah, tapi bapak akan usakan nyari pinjaman untuk
bayar sekolah kamu”
Saya :“ooh gitu pak, terus gimana
yang saran ibu guru pak”
Bapak :“jangan pernah kita bilang kita
miskin, tapi bilang kita belum mampu, jangan pernah mengeluh apa yang terjadi
tapi kita harus nikmati dan syukuri, biar kan waktu yang berbicara yang penting
kita terus berusaha dan berdo’a semua kita pasrahkan kepada yang Maha Pencipta
karena Dia Lah yang menciptakan apa yang ada dalam diri kita, maafkan bapak ya?
Tidak bisa memberi kebahagian buat kamu, ya.... sudah kamu tenang saja yang
penting kamu terus belajar, dan sekolah yang rajin, bapak akan usahakan biaya
nya, sabar ya jum?”
Saya
:“oh ya sudah pak kalau
begitu, saya mau ke rumah temen dulu, mau ambil buku pelajaran yang tadi di
pinjam di sekolah soalnya ada PR yang harus selesai malam ini, besok pagi harus
di kumpulkan, saya pamit dulu pak, assalamu’alaikum”
Bapak
: “oh ya sudah kalau
begitu, wa’alaikum salam, pulang jangan malam-malam jum”
Saya
: “iya pak”
Sepulang
dari rumah teman, saya langsung mengerjakan tugas sekolah tidak terasa waktu
sudah jam 12 malam, untungnya tugas sekolah sudah selesai dan saya langsung
istirahat tidur, tetapi malam itu saya tidak bisa tidur memikirkan bagaimana
cara untuk membayar sekolah tanpa membebani orang tua, akhirnya saya
mendapatkan ide untuk berjualan comro, lontong, dan ondol mendoan dan lainnya, sebelum
berangkat sekolah, karena beberpa hari yang lalu, ada tetangga saya yang
namanya ibu darmi menawarkan saya untuk berjualan dan kebetulan saya lihat
selama ini mayoritas tetangga di lingkungan saya pagi hari selalu emnikmati
sarapan seperti yang saya jual nanti, saya berpikir dengan semangat bahwa pasti
apa yang saya jual nanti pasti laku terjual habis,dengan begitu saya dapat upah
dan upah itu akan saya gunakan untuk menbayar biaya sekolah yang menunggak,
saya selalu diajarkan untuk tidak mengeluh dan selalu bekerja keras,berusaha tanpa
menyerah untuk masa depan yang cemerlang.
Pagi
itu saya bangun lebih pagi dari biasanya dengan tergesa-gesa saya mandi dan
langsung mengerjakan sholat, habis sholat saya bergegas pergi ke rumah tetangga
untuk mengambil barang dagangan yang akan saya jual sebelum berangkat sekolah, sampai
di rumahnya, dan ibu darmi sedang menggoreng mendoan yang akan saya jual,
Bu darmi :”eh, jumadi, gimana, jadi kamu menjual
dagangan Ibu?”
Saya :” ya jadi bu, soalnya saya butuh
uang untuk bayar sekolah”
Bu
darmi :”oh ya sudah ini mendoan,
dan comro sudah mateng, tinggal lontongnya bentar lagi juga mateng tunggu
bentar ya, eh ya kamu mau bawa berapa yang akan kamu jual nanti?”
Saya :” oh gitu ya bu, ya sudah
saya bawa seratus dulu semuanya kan jadi tiga ratus biji bu”
Bu
darmi :”tidak kebanyakan jum,
ini kan pertama kali kamu mau jualan, takut kamu nanti tidak keburu sampai jam
sekolah jum”
Saya :”tidak apa-apa bu, nanti
kalau belom habis saya titipkan di kantin saja klau tidak saya tawarkan ke
temen-temen sekolah saya bu, insyaalloh habis bu”
Bu
darmi :”oh ya sudah kalau
begitu, ngomong-ngomong kamu tidak malu nanti jualan dikelas, dan tidak takut
di marahin sama Ibu Guru?”
Saya :”ngapain malu bu, orang saya
julan kok bukan maling, saya sudah siap dengan resiko apapun demi kelancaran
sekolah SD saya bu”
Ibu
darmi :“kamu memang anak yang
baik, ya sudah ini Ibu sudah hitung semua, ada tiga macam, semuanya
seratus-seratus,tinggal kamu bawa, ya sudah nanti keburu kesiangan, hati-hati
ya jualanya, Ibu doakan biar habis supaya kamu dapat duitnya juga lumayan”
Saya,
:” ya ibu, terimakasih,
say sudah saya pamit bu, assalamu’alaikum”
Bu
darmi : “ hati-hati ya,
wa’alaikum salam”
Sebelum
berjualan saya berdoa supaya dagangan saya nanti habis terjual dan Alkhamdulillah
barang dagangan yang saya jual pertama kali itu habis sebelum bel masuk sekolah berbunyi,
dan tempat yang buat jualan saya titipkan ke kantin belakang sekolah, dan saya langsung
bergegas masuk ke kelas untuk belajar, tidak lupa mengganti baju seragam
sekolah terlebih dahulu.
Hari-hari
berikutnya saya selalu bangun pagi untuk berjualan sebagai rutinitas di pagi
hari , apabila barang dagangan belum habis saya jual di sekolah kepada
teman-teman maupun ibu guru saya, dan saya bersyukur sekali didalam kelas,
semua teman tidak ada yang mencemooh maupun menghina ataupun marah saya jualan
dikelas, dan guru justru senang dengan apa yang saya lakukan itu. Buktinya ibu
guru membeli apa yang saya jual,dan itu setiap pagi ibu guru membeli buat
sarapan pagi para guru,dan hari berikutnya saya tambah barang dagangan saya
untuk saya jual setelah pulang sekolah.
Tidak
ada lagi kata bermain dalam usia belia seperti saya saat itu, yang memang usia
saat itu sebenarnya waktu untuk bermain, tetapi walaupun saya terkadang ingin
seperti layaknya anak-anak bermain saat itu, tapi justru saya terus berjualan
tidak terpikirkan lagi untuk bermain-main, ku tepis rasa itu demi masa depan ku
dan meringankan beban orang tua ku, hanya saja terkadang apabila ada sedikit
waktu senggang saya bermain seperti, gundu, panggal, dan karet dalam permainan
itu justru saya juga menghasilkan uang, karena aku selalu menang, dan
teman-teman yang kalah selalu membeli lagi ke saya, itulah keuntungan saya,
tidak ada permainan yang membuat aku mengeluarkan uang justru saya selalu
mendapatan uang dari hasil permainan itu, tidak ada satupun permainan yang saya
beli saat itu, kalau saya bermain itu justru karena disuruh untuk memenangkan
dan kalau saya menang, saya dikasih untuk bermain sendiri dan akhirnya semua
mainan seperti karet, gundu, dan gambar menumpuk di rumah, dan saya jual
apabila ada teman yang mau beli.
Hasil
dari jualan dan permainan yang menguntungakan saya bagi sebagian buat jajan
adik-adik saya dan sebagian terkadang untuk membeli beras untuk makan seadanya
bersama keluarga dan sebagian lagi saya tabung tanpa sepengetahuan orang tua,
terkadang saya harus memenuhi kebutuhan orang tua, seperti beli beras, gula,
kopi, teh, sabun, dan sebagainya.
Saya
sangat senang sekali bisa mebantu orang tua, tidak ada rasa malu bagi saya untuk meraih
sesuatu yang khalal dan di Ridhoi Alloh swt, semua saya lakukan dengan ikhlas
tanpa beban, dan terus bersabar menanti sesuatu yang saya harapkan yaitu lulus
Sekolah Dasar dengan biaya sendiri tanpa membebani orang tua.
Saya
selalu berdoa dan mengharapkan nila EBTANAS saya masuk dalam 5 besar, saya
tidak tahu pasti apakah saya bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama ( SMP
) tetapi itu bisa menjadi Modal saya untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama
di Negeri.
Perjuangan
demi perjuangan saya lakukan untuk meraih nilai itu mengurangi makan dengan
berpuasa , mengurangi tidur untuk belajar untuk mengejar harapan saya yaitu
Lulus dengan nilai setidaknya hasilnya tidak mengecewakan orang tua, guru dan
saya sendiri karena dukungan merekalah yang menjadi penyemangat saya untuk
terus belajar dan belajar.
Alhamdulillah
beberapa bulan saya menabung bisa untuk melunasi tunggakan pembayaran SPP dan
saya serahkan semua itu ke Ibu guru wali kelas saya dan tidak lupa meminta maaf
atas keterlambatan ini :
Saya
:“Ibu, maaf menggangu,
saya mau membayar SPP tunggakan dan sekalian yang bulan ini dan saya minta maaf
atas keterlambatan ini “
Ibu
guru :“Alhamdulillah, ternyata
kamu memang murid yang paling membanggakan, walaupun kamu maaf, miskin tapi
kamu terus berusaha, ibu senang sekali, ya sudah ini uang SPP nya kamu bawa
lagi saja untuk membeli keperluan sekolah kamu, tas, seragam dan sepatu, selama
ini ibu lihat kamu tidak pernah memakai sepatu yang layak, belilah sepatu dan
seragam sekolah ya? Soalnya kemaren saya menemui Ibu Kepala sekolah melaporkan
permasalahan tentang tunggakan SPP kamu, dan Alhamdulillah Ibu Kepala Sekolah
Membebaskan kamu dari SPP, Ini uang nya
kamu pegang kembali hati-hati yah, mbawa duitnya”
Saya
:“Ibu, maaf sekali
lagi saya minta maaf, ini uang sudah saya tabung beberapa bulan untuk bayar
sekolah, bukan untuk beli seperti itu, intinya sekolah itu kan belajar, bukan
apa yang kita pakai dan kita bawa yang utama, tetapi belajar dengan
sungguh-sungguh, jangan pandang kita dari penampilan yang kita pakai, tapi
lihatlah apa yang diperbuatnya, betul tidak bu? (terharu dan meneteskan air
mata saat itu) “terima kasih bu atas segala Kebaikan Ibu dan saya janji saya
akan berusaha rajin belajar, supaya nilai saya tidak mengecewakan ibu”
Ibu
guru :“iya .. sama-sama
terimakasih lah kepada Ibu Kepala Sekolah yangvtelah membebaskan kamu dari
biaya sekolah ini, kamu pintar sekali, Ibu bangga punya murid seperti kamu, jarang
sekali anak seperti kamu berani berjualan keliling untuk mencukupi kebutuhanmu,
sekali lagi ibu bangga sama kamu (sambil mengusap rambut saya) oh ya besok
senin kita sudah EBTANAS kamu, kamu harus belajar terus, biar nilai kamu bagus”
Saya :“ok
Bu, siap laksanakan, hehehe, oh ya bu saya pamit dulu sudah siang, saya mau
mengambil dagangan saya bu, untuk saya jual keliling lagi, terimakasih atas
semuanya ya bu? Assalamu’alaikum”
Ibu
guru :“ iya, hati-hati
dijalan duitnya jangan lupa buat beli peralatan sekolah, wa’alaikum salam”
Setelah
pulang sekolah saya mengambil barang dagangan saya kembali dan keliling lagi
untuk berjualan, semangat dan pantang menyerah adalah sifat yang mungkin
tertanam dalam diri saya untuk meraih sebuh impian di masa yang akan datang,
karena cita-cita saya bukanlah menjadi orang yang terkenal ataupun menjadi
pejabat atau apapun, cita-cita ku hanyalah bisa membahagiakan keluarga saya,
disaat saya mempunyai anak dan istri kelak. tidaklah akan seperti ini, seperti
yang saya rasakan sekarang ini, itulah cita-cita saya.
Saya
hanyalah manusia biasa yang mempunyai rasa yang sama seperti yang lainnya, mempunyaii
rasa sedih, putus asa, dengki, sombong dan yang lainya,tetapi saya berusaha untuk
yang terbaik dan terus semangat berjuang menaklukan kehidupan yang penuh kemiskinan
dan kesulitan ini, pantang menyerah dan terus berdo’a supaya Alloh swt
memberikan jalan yang lurus dan berkah untuk hambanya yang lemah dan hina ini..
amin.
Singkatnya
EBTANAS telah usai tinggal menunggu hasilnya, dan hari sabtu pagi saya di panggil
kepala sekolah untuk ke ruangannya, sambil berjalan ke ruangan Ibu Kepala
Sekolah, pikiran berkecamuk dalam hati saya, saya bertanya-tanya dalam hati,
kenapa saya dipanggil Ibu Kepala Sekolah? Apakah Hasil EBTANAS saya jelek, atau Ibu berubah pikiran tentang biaya sekolah
yang selama ini bebas biaya? Saya menjadi deg-degan,tapi saya berusaha tenang,
Saya : ( sambil mengetuk pintu
ruangan) “ assalamu’alaikum”
Ibu KepSek : “wa’alaikum salam, masuk jum”
Saya “Permisi bu”
Ibu KepSek :”silahkan duduk jum”
Saya :”ya ... bu, terimakasih”(
sambil melihat ekspresi Ibu kepala Sekolah, kira-kira apa yang akan di
sampaikan ibu kepsek dalam hati saya bertanya,) dan ternyata Ibu wali Kelas
saya, juga ada disitu.
Ibu
KepSek :” kamu tahu? Kenapa Ibu
memanggil kamu kesini?”
Saya
:“tidak bu, apakah ada
kesalahan yang saya lakukan, bu, maaf kalau saya kurang ajar maupun
mengecewakan melakukan kesalahan, Ibu Kepala Sekolah, dan Ibu wali kelas,
sungguh saya tidak tahu bu”
Ibu
KepSek :” kamu tidak salah kok, Ibu
hanya mau Tanya, seandainya kamu lulus dengan nilai yang sempurna, kamu mau
malanjutkan sekolah dimana?”
Saya :“saya tidak tahu bu, hasilnya
saja saya belum tahu, tapi seandainya saya lulus juga saya tidak tahu bisa
tidak melanjutkan sekolah, bu, ibu tahu sendiri di SD saja saya tidak mampu
membayar sekolah, semua ini Bantuan dari Ibu Kepala Sekolah sehingga sampai
sekarang ini, walupun saya tidak tahu hasil nya soal nilai EBTANAS, saya
berterimakasih saya bisa sekolah hingga saat ini, bisa berhadapan dengan Ibu, saya
mengucapkan banyak terimakasih sama ibu, yang telah membant saya”
Ibu
wali kelas :“jum, kamu dipanggil sama Ibu
Kepala Sekolah itu, supaya kamu bisa melanjutkan sekolah kamu, seandainya kamu
tidak mampu membiayai, Ibu kepala sekolah akan membantu kamu, tapi Ibu kepala
sekolah bisa membantu kamu asalkan kamu sekolah di SMP mukhammadiya, yang ada
di seberang itu, bagaimana”
Saya
:”iya ibu, saya begitu
banyak-banyak ucapkan terimakasih ibu, bagaimana cara membalas ini semua kepada
Ibu kepala sekolah dan ibu wali kelas, hanya Alloh swt yang bisa membalas
kebaikan Ibnu semua, maaf Ibu bukanya saya menolak, tetapi saya harus bicarakan
ini kepada orang tua saya, dan saya juga belom tahu apakah nilai saya bagus
atau tidak”
Ibu
KepSek :” selamat ya, kamu juara 3 dikelas ini, Nilai EBTANAS kamu, bagus
sekali, Ibu tidak menyangka, kamu bisa mengejar itu semua, waulupun waktu kamu
habis untuk berjualan tetapi kamu bisa menjadi juara”
Saya :” alhamdulillah apa yang saya
harapkan terkabul, tidak sia-sia apa yang saya perjuangkan selama ini bu,
terimakasih bu, ya sudah ibu saya pamit saya mau kabar gembira ini kepada orang
tua saya, assalamu’alaikum”
Ibu guru dan Ibu kepSek
serentak sambil senyum menyambut salam saya “ wa’laikum salam”
Ini
hanya segelintir cerita pendek dari kisah perjalanan hidup saya yang sejatinya
bahwa sebuah kehidupan apabila suatu permasalah serumit apapun apabila kita
ikhlas dan sabar menghadapinya niscaya akan ada hikmah dibalik kesedihan dan
kesulitan, kuncinya adalah sabar, ikhlas menerima segala apa yang menjadi ujian
didalam hidup kita, Alloh swt tidak pernah tidur dan tidak pernah menelantarkan
hambanya yang ikhlas dan sabar dalam menjalani Ujia-ujia-Nya.dan semua ujian
itu sesuai dengan kemampuan kita, Alloh
swt tidak memberikan Ujian melewati batas kemampuan kita.
Sabar
dan ikhlas, terus berusaha dan berdoa untuk menjalani Kehidupan yang hanya
sebentar ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar