Senin, 31 Maret 2014

HIKMAH SEBUAH PERJUANGAN


HIKMAH SEBUAH PERJUANGAN
Kisah ini terjadi sekitar 23 tahun yang lalu, pada saat itu saya masih duduk di bangku SD yang tepatnya di SDN yang ada di Desa Maos lor, Cilacap, Jawa tengah yang letaknya jauh dari rumah ke sekolah, ke sekolah berjalan kaki dengan sepatu yang sudah robek, dengan perut kosong karena tidak ada sarapan pagi tiap hari serta terkadang tidak membawa uang jajan.
Ini mungkin cerita yang dianggap orang hanya angin lalu, dan mungkin terjadi pada seseorang yang telah sukses menjadi orang kaya maupun ternama, mereka ceritakan pengalaman hidup nya yang pahit dahulu,setelah meraih kesuksesanya menjadi orang kaya maupun terkenal, tapi ini adalah kisah untuk memotivasi sampai sekarang ini dan menjadi sebuah kenangan supaya selalu ingat darimana dulu saya berasal.
Saya dilahirkan dari golongan orang yang tak mampu dan bisa dibilang paling  miskin di sekitar rumah atau dilingkungan saya dilahirkan, karena setiap hari orang tua selalu bingung mencari uang yang sekedar buat makan sehari walau cuma sekali makan saja, dan saya mengerti apa yang di rasakan orang tua, terkadang terbesit dalam hati pertanyaan-pertanyaan yang membuat aku putus asa, dan sedih, kenapa aku dilahirkan dari orang tua yang tidak punya ?, kenapa saya tidak dilahirkan dari orang tua yang kaya raya ?, jadi saya bisa meminta apapun yang saya inginkan, itulah yang terkadang selalu mengganggu dipikiran ku, jangankan untuk membeli baju baru untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja susah. Saya berusaha menepis rasa itu, yang terkadang selalu selalu mengganggu dipikiran saya ini, tetapi saya terus berusaha untuk  tegar dalam menghadapi kesulitan-kesulitan yang ada, karena perjalanan saya masih panjang saat itu dan berusaha untuk mengejar harapan cita-cita tanpa merepotkan orang tua.
Ibu saya seorang ibu rumah tangga dan terkadang membantu memenuhi kebutuhan dirumah yaitu berjualan baju-baju bekas, itu juga kalau ada tetangga yang menyuruh untuk menjualnya ke pasar, dan dari situ ibu saya mendapatkan upah yang lumayan buat makan keluarga, Bapak saya seorang pedagang bubur kacang hijau keliling, kalau ibu tidak ada yang menyuruh maka kami sekeluarga harus menunggu Bapak saya pulang Jualan untuk makan sekali dalam sehari itu. ini yang membuat saya sedih sampai sekarang, banyak orang yang, banyak orang yang kelebihan makan sampai makanan di buang sedangkan saya harus menahan lapar sampai orang tua pulang berjualan bubur baru bisa makan. paling senang sekali saat itu adalah apabila bapak disuruh kenduri dirumah tetangga dan pasti pulang membawa makanan banyak, ada makan malam enak yang saya anggap itu adalah pesta besar keluarga saya, walaupun harus berebut lauk sama kakak dan adik-adik say, tapi itu sangat menyenangkan sekali dan itu jarang sekali terjadi di keluarga saya.
Inilah kisah yang akan saya ceritakan, saya selalu ingat kenangan-kenangan pahit dulu pada hari senin waktu itu saya berangkat sekolah karena sudah terbiasa tidak sarapan pagi dan tidak membawa uang jajan dan memang tidak ada, saya tidak tahu hari itu begitu lemas sekali badan, mungkin karena kecapean karena setiap pulang sekolah kalau sungai surut pasti saya ikut membantu bapak mikul pasir  masalah bagi saya tidak sarapan pagi dan tidak membawa uang jajan, karena melihat orang tua selalu kesusahan mencari uang buat makan jadi saya harus siap menerima apa yang ada, karena saya selalu ingat kata guru ngaji saya bahwa “hidup ini hanya sementar terimalah apa yang ada di kehidupan mu dan teruslah berjuang untuk meraih kehidupan yang lebih baik, dan Alloh swt suka dengan hamba yang diberikan kemiskinan dia selalu bersabar dan diberikan sedikit dia bersyukur, jadilah kamu anak yang pandai bersyukur, insyaalloh kamu akan  bisa menggapai harapanmu, terus lah berjuang dan berjuang jangan pernah menyerah dengan kehidupan ini dan takutlah kepada Alloh swt apabila kamu akan melakukan sesuatu yang dilarang oleh agamamu”  itulah yang menjadi pendorong saya untuk maju kedepan dengan tidak mengeluh dan putus asa dalam menjalani kehidupan ini walau seberat apapun pasti kita mampu. Kembali ke cerita, saat teriknya matahari menyinari ku aku merasa pusing dan tidak sadar badan ini akan terjatuh untung di sebelah saya ada pak guru dan langsung di pegang sama pak guru dan:
pak guru bertanya: “ jum, kamu tidak apa-apa? “
saya                 : “ saya tidak apa apa pak.”
Pak guru          : “ kalau kamu sakit biar baca doanya nanti diganti sama yang lain “
Saya           : “ saya tidak apa-apa pak, beneran saya baik-baik saja, terimakasih pak, biar saya saja yang tetap membaca do’anya nanti pak”
Pak guru : “ oh ya sudah kalau begitu, kalau kamu baik-baik saja”
Setelah itu pak guru berbisik pada Ibu guru wali kelas saya, dan saya tidak tahu apa yang dibicarakan, yang jelas saat itu perasaan dan perut saya sudah tidak karuan sekali, ahirnya datang juga waktu membaca doa, dan aku pun dengan segera membaca doa, karena saat itu perasaan yang tidak karuan saya dalam membaca doa pun sambil menangis karena terbawa perasaan air mata menetes tidak terasa dan nada membaca doapun menjadi sendu dan sedikit serak, setelah selesai membca doa aku berjalan mundur kebarisan semula, kepala semakin tidak karuan dan aku pun terjatuh tetapi tidak pingsan hanya lemas yang aku rasakan, akhirnya aku diangkat pak guru masuk ke ruang UKS untuk di obati, ibu wali kelas juga ikut ke ruang UKS, dan :
Ibu guru bertanya :“ kamu kenapa jum, kamu sakit apa? Muka kamu pucat sekali”
Saya                      :“ saya cuma pusing biasa saja bu, saya tidak apa-apa,bu”
Ibu guru                 :“pasti kamu tidak sarapan pagi lagi, kan ibu dah bilang setiap mau         berangkat sekolah itu kamu sarapan pagi dulu, biar kamu tidak lemas dan sakit kayak begini”
Saya                       :“tidak apa-apa bu, bentar lagi juga sehat bu”
Ibu guru                 :“jum jum kamu tuh memang bandel di bilangin ya?( sambil geleng-geleng kepala)  ,Tiyo, tolong Jumadi belikan roti,ini uangnya ( sambil memberikan uang ke tiyo)”
Tiyo                        :“ iya bu, siap bu”
Ibu guru berbicara lagi disaat tinggal saya dan ibu guru saja, ibu guru bertanya
:“ kamu itu jujur saja sama ibu, bilang apa yang kamu pikirkan, ibu tahu kamu anak pintar, baik, dan paling pendiam dikelas, jujur saja sama ibu, apa yang terjadi di keluarga mu, mungkin ibu bisa bantu, kamu sudah ibu anggap sebagai anak ibu sendiri, bicaralah sama ibu”
Saya mendengar kata-kata Ibu guru menjadi tsedih dan aku jadi meneteskan air mata, tetapi tetap saya tutupi apa yang menjadi kekurangan di rumah saya “ ibu, maaf sekali saya tidak apa-apa bu, terima kasih ibu sudah menganggap saya sebagai anak ibu, saya senang sekali” dalam hati saya biarkan itu menjadi rahasia  dan beban saya, saya tidak mau orang lain terbebani masalah keluarga saya
Ibu guru                 :“ kamu ini memang anak baik, ibu kamu pasti senang punya anak seperti kamu, tidak pernah minta jajan, tidak pernah mengeluh dengan apa yang ada dan kamu tetap tenang dengan keadaanmu itu, ibu bangga sama kamu jum, iuran SPP bulanan kamu saya dengar belom pernah dibayar dari kelas 1 (satu) sampai kelas 3 (tiga), kenapa kamu tidak meminta orang tua kamu meminta surat miskin saja, supaya kamu Gratis biaya sekolahnya, maaf kalau ibu menyinggung perasaan kamu, tapi ibu bener-bener mau membentu biarkan buku-buku cetak pembelajaran ibu yang bayarin dan buku tulis kamu ibu akan bantu, tetapi SPP itu hanya orang tua kamu yang bisa membuat surat miskin atau membayarnya”
Saya                       : “ terimakasih bu, mudah-mudahan semua apa yang ibu berikan kepada saya, akan dibalas berlipat-lipat sama Alloh swt, amin, iya Ibu ntar saya sampaikan itu kepada Orang Tua saya”
 Dalam perjalanan pulang sekolah, dengan perut lapar dan panasnya matahari saat itu saya berjalan pulang, berharap sampai dirumah nanti ada makanan yang bisa saya makan, sampai dirumah, bapak saya belum pulang dari jualan, Ibu saya tidak tahu kemana, rumah sepi tiada orang, lalu saya melepas baju seragam yang sudah lusuh dan bau, lalu mengambil air wdhu dan melakukan sholat dhuhur, setelah itu baru saya ke dapur untuk makan siang, tetapi saya lihat belum ada apapun di meja makan, daripada saya menahan lapar saya langsung kekamar untuk tidur daripada saya menahan lapar yang tidak tentu, dalam tiduran itu saya berpikir bagaimana cara menyampaikan masalah Pembayaran SPP ke orang tua, untuk makan saja susah seperti ini, bagaiamana agar supaya orang tua tidak marah dan sakit hati dalam menyampaikan pembayaran SPP nya, dan sore itu juga saya beranikan diri menyampaikannya ke orang tua walaupun berat rasanya :
Saya                : “pak, saya mau bicara, boleh ?”
Bapak              : “ ada apa jum?”
Saya                  :“ini pak, bagaimana soal pembayaran sekolah yang nunggak dari kelas satu sampai sekarang, bapak belum juga membayarnya, saya malu sama temen-temen dan ibu guru soal tunggakan pembayaran SPP pak, kalau bapak ga mampu bayar, ibu guru nyaranin, bapak di sarankan buat surat miskin ke kantor desa pak, supaya sekolah saya gratis tanpa biaya apapun”
Bapak                :“iya ntar bapak coba cari pinjaman dulu buat biaya sekolah kamu, bapak juga pusing jum, nyari duit buat makan adik-adik kamu aja susah, tapi bapak akan usakan nyari pinjaman untuk bayar sekolah kamu”
Saya                  :“ooh gitu pak, terus gimana yang saran ibu guru pak”
Bapak                :“jangan pernah kita bilang kita miskin, tapi bilang kita belum mampu, jangan pernah mengeluh apa yang terjadi tapi kita harus nikmati dan syukuri, biar kan waktu yang berbicara yang penting kita terus berusaha dan berdo’a semua kita pasrahkan kepada yang Maha Pencipta karena Dia Lah yang menciptakan apa yang ada dalam diri kita, maafkan bapak ya? Tidak bisa memberi kebahagian buat kamu, ya.... sudah kamu tenang saja yang penting kamu terus belajar, dan sekolah yang rajin, bapak akan usahakan biaya nya, sabar ya jum?”
Saya                  :“oh ya sudah pak kalau begitu, saya mau ke rumah temen dulu, mau ambil buku pelajaran yang tadi di pinjam di sekolah soalnya ada PR yang harus selesai malam ini, besok pagi harus di kumpulkan, saya pamit dulu pak, assalamu’alaikum”
Bapak                : “oh ya sudah kalau begitu, wa’alaikum salam, pulang jangan malam-malam jum”
Saya                  : “iya pak”
Sepulang dari rumah teman, saya langsung mengerjakan tugas sekolah tidak terasa waktu sudah jam 12 malam, untungnya tugas sekolah sudah selesai dan saya langsung istirahat tidur, tetapi malam itu saya tidak bisa tidur memikirkan bagaimana cara untuk membayar sekolah tanpa membebani orang tua, akhirnya saya mendapatkan ide untuk berjualan comro, lontong, dan ondol mendoan dan lainnya, sebelum berangkat sekolah, karena beberpa hari yang lalu, ada tetangga saya yang namanya ibu darmi menawarkan saya untuk berjualan dan kebetulan saya lihat selama ini mayoritas tetangga di lingkungan saya pagi hari selalu emnikmati sarapan seperti yang saya jual nanti, saya berpikir dengan semangat bahwa pasti apa yang saya jual nanti pasti laku terjual habis,dengan begitu saya dapat upah dan upah itu akan saya gunakan untuk menbayar biaya sekolah yang menunggak, saya selalu diajarkan untuk tidak mengeluh dan selalu bekerja keras,berusaha tanpa menyerah untuk masa depan yang cemerlang.
Pagi itu saya bangun lebih pagi dari biasanya dengan tergesa-gesa saya mandi dan langsung mengerjakan sholat, habis sholat saya bergegas pergi ke rumah tetangga untuk mengambil barang dagangan yang akan saya jual sebelum berangkat sekolah, sampai di rumahnya, dan ibu darmi sedang menggoreng mendoan yang akan saya jual,
Bu darmi         :”eh, jumadi, gimana, jadi kamu menjual dagangan Ibu?”
Saya                :” ya jadi bu, soalnya saya butuh uang untuk bayar sekolah”
Bu darmi           :”oh ya sudah ini mendoan, dan comro sudah mateng, tinggal lontongnya bentar lagi juga mateng tunggu bentar ya, eh ya kamu mau bawa berapa yang akan kamu jual nanti?”
Saya                  :” oh gitu ya bu, ya sudah saya bawa seratus dulu semuanya kan jadi tiga ratus biji bu”
Bu darmi           :”tidak kebanyakan jum, ini kan pertama kali kamu mau jualan, takut kamu nanti tidak keburu sampai jam sekolah jum”
Saya                  :”tidak apa-apa bu, nanti kalau belom habis saya titipkan di kantin saja klau tidak saya tawarkan ke temen-temen sekolah saya bu, insyaalloh habis bu”
Bu darmi           :”oh ya sudah kalau begitu, ngomong-ngomong kamu tidak malu nanti jualan dikelas, dan tidak takut di marahin sama Ibu Guru?”
Saya                  :”ngapain malu bu, orang saya julan kok bukan maling, saya sudah siap dengan resiko apapun demi kelancaran sekolah SD saya bu”
Ibu darmi          :“kamu memang anak yang baik, ya sudah ini Ibu sudah hitung semua, ada tiga macam, semuanya seratus-seratus,tinggal kamu bawa, ya sudah nanti keburu kesiangan, hati-hati ya jualanya, Ibu doakan biar habis supaya kamu dapat duitnya juga lumayan”
Saya,                 :” ya ibu, terimakasih, say sudah saya pamit bu, assalamu’alaikum”
Bu darmi           : “ hati-hati ya, wa’alaikum salam”
Sebelum berjualan saya berdoa supaya dagangan saya nanti habis terjual dan Alkhamdulillah barang dagangan yang saya jual pertama kali  itu habis sebelum bel masuk sekolah berbunyi, dan tempat yang buat jualan saya titipkan ke kantin belakang sekolah, dan saya langsung bergegas masuk ke kelas untuk belajar, tidak lupa mengganti baju seragam sekolah terlebih dahulu.
Hari-hari berikutnya saya selalu bangun pagi untuk berjualan sebagai rutinitas di pagi hari , apabila barang dagangan belum habis saya jual di sekolah kepada teman-teman maupun ibu guru saya, dan saya bersyukur sekali didalam kelas, semua teman tidak ada yang mencemooh maupun menghina ataupun marah saya jualan dikelas, dan guru justru senang dengan apa yang saya lakukan itu. Buktinya ibu guru membeli apa yang saya jual,dan itu setiap pagi ibu guru membeli buat sarapan pagi para guru,dan hari berikutnya saya tambah barang dagangan saya untuk saya jual setelah pulang sekolah.
Tidak ada lagi kata bermain dalam usia belia seperti saya saat itu, yang memang usia saat itu sebenarnya waktu untuk bermain, tetapi walaupun saya terkadang ingin seperti layaknya anak-anak bermain saat itu, tapi justru saya terus berjualan tidak terpikirkan lagi untuk bermain-main, ku tepis rasa itu demi masa depan ku dan meringankan beban orang tua ku, hanya saja terkadang apabila ada sedikit waktu senggang saya bermain seperti, gundu, panggal, dan karet dalam permainan itu justru saya juga menghasilkan uang, karena aku selalu menang, dan teman-teman yang kalah selalu membeli lagi ke saya, itulah keuntungan saya, tidak ada permainan yang membuat aku mengeluarkan uang justru saya selalu mendapatan uang dari hasil permainan itu, tidak ada satupun permainan yang saya beli saat itu, kalau saya bermain itu justru karena disuruh untuk memenangkan dan kalau saya menang, saya dikasih untuk bermain sendiri dan akhirnya semua mainan seperti karet, gundu, dan gambar menumpuk di rumah, dan saya jual apabila ada teman yang mau beli.
Hasil dari jualan dan permainan yang menguntungakan saya bagi sebagian buat jajan adik-adik saya dan sebagian terkadang untuk membeli beras untuk makan seadanya bersama keluarga dan sebagian lagi saya tabung tanpa sepengetahuan orang tua, terkadang saya harus memenuhi kebutuhan orang tua, seperti beli beras, gula, kopi, teh, sabun, dan sebagainya.
Saya sangat senang sekali bisa mebantu orang tua,  tidak ada rasa malu bagi saya untuk meraih sesuatu yang khalal dan di Ridhoi Alloh swt, semua saya lakukan dengan ikhlas tanpa beban, dan terus bersabar menanti sesuatu yang saya harapkan yaitu lulus Sekolah Dasar dengan biaya sendiri tanpa membebani orang tua.
Saya selalu berdoa dan mengharapkan nila EBTANAS saya masuk dalam 5 besar, saya tidak tahu pasti apakah saya bisa melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) tetapi itu bisa menjadi Modal saya untuk melanjutkan Sekolah Menengah Pertama di Negeri.
Perjuangan demi perjuangan saya lakukan untuk meraih nilai itu mengurangi makan dengan berpuasa , mengurangi tidur untuk belajar untuk mengejar harapan saya yaitu Lulus dengan nilai setidaknya hasilnya tidak mengecewakan orang tua, guru dan saya sendiri karena dukungan merekalah yang menjadi penyemangat saya untuk terus belajar dan belajar.
Alhamdulillah beberapa bulan saya menabung bisa untuk melunasi tunggakan pembayaran SPP dan saya serahkan semua itu ke Ibu guru wali kelas saya dan tidak lupa meminta maaf atas keterlambatan ini :
Saya                     :“Ibu, maaf menggangu, saya mau membayar SPP tunggakan dan sekalian yang bulan ini dan saya minta maaf atas keterlambatan ini “
Ibu guru               :“Alhamdulillah, ternyata kamu memang murid yang paling membanggakan, walaupun kamu maaf, miskin tapi kamu terus berusaha, ibu senang sekali, ya sudah ini uang SPP nya kamu bawa lagi saja untuk membeli keperluan sekolah kamu, tas, seragam dan sepatu, selama ini ibu lihat kamu tidak pernah memakai sepatu yang layak, belilah sepatu dan seragam sekolah ya? Soalnya kemaren saya menemui Ibu Kepala sekolah melaporkan permasalahan tentang tunggakan SPP kamu, dan Alhamdulillah Ibu Kepala Sekolah Membebaskan kamu dari SPP,  Ini uang nya kamu pegang kembali hati-hati yah, mbawa duitnya”
Saya                     :“Ibu, maaf sekali lagi saya minta maaf, ini uang sudah saya tabung beberapa bulan untuk bayar sekolah, bukan untuk beli seperti itu, intinya sekolah itu kan belajar, bukan apa yang kita pakai dan kita bawa yang utama, tetapi belajar dengan sungguh-sungguh, jangan pandang kita dari penampilan yang kita pakai, tapi lihatlah apa yang diperbuatnya, betul tidak bu? (terharu dan meneteskan air mata saat itu) “terima kasih bu atas segala Kebaikan Ibu dan saya janji saya akan berusaha rajin belajar, supaya nilai saya tidak mengecewakan ibu”
Ibu guru               :“iya .. sama-sama terimakasih lah kepada Ibu Kepala Sekolah yangvtelah membebaskan kamu dari biaya sekolah ini, kamu pintar sekali, Ibu bangga punya murid seperti kamu, jarang sekali anak seperti kamu berani berjualan keliling untuk mencukupi kebutuhanmu, sekali lagi ibu bangga sama kamu (sambil mengusap rambut saya) oh ya besok senin kita sudah EBTANAS kamu, kamu harus belajar terus, biar nilai kamu bagus”
Saya                     :“ok Bu, siap laksanakan, hehehe, oh ya bu saya pamit dulu sudah siang, saya mau mengambil dagangan saya bu, untuk saya jual keliling lagi, terimakasih atas semuanya ya bu? Assalamu’alaikum”
Ibu guru               :“ iya, hati-hati dijalan duitnya jangan lupa buat beli peralatan sekolah, wa’alaikum salam”
Setelah pulang sekolah saya mengambil barang dagangan saya kembali dan keliling lagi untuk berjualan, semangat dan pantang menyerah adalah sifat yang mungkin tertanam dalam diri saya untuk meraih sebuh impian di masa yang akan datang, karena cita-cita saya bukanlah menjadi orang yang terkenal ataupun menjadi pejabat atau apapun, cita-cita ku hanyalah bisa membahagiakan keluarga saya, disaat saya mempunyai anak dan istri kelak. tidaklah akan seperti ini, seperti yang saya rasakan sekarang ini, itulah cita-cita saya.
Saya hanyalah manusia biasa yang mempunyai rasa yang sama seperti yang lainnya, mempunyaii rasa sedih, putus asa, dengki, sombong dan yang lainya,tetapi saya berusaha untuk yang terbaik dan terus semangat berjuang menaklukan kehidupan yang penuh kemiskinan dan kesulitan ini, pantang menyerah dan terus berdo’a supaya Alloh swt memberikan jalan yang lurus dan berkah untuk hambanya yang lemah dan hina ini.. amin.
Singkatnya EBTANAS telah usai tinggal menunggu hasilnya, dan hari sabtu pagi saya di panggil kepala sekolah untuk ke ruangannya, sambil berjalan ke ruangan Ibu Kepala Sekolah, pikiran berkecamuk dalam hati saya, saya bertanya-tanya dalam hati, kenapa saya dipanggil Ibu Kepala Sekolah? Apakah Hasil EBTANAS saya jelek, atau  Ibu berubah pikiran tentang biaya sekolah yang selama ini bebas biaya? Saya menjadi deg-degan,tapi saya berusaha tenang,
Saya                : ( sambil mengetuk pintu ruangan) “ assalamu’alaikum”
Ibu KepSek     : “wa’alaikum salam, masuk jum”
Saya                “Permisi bu”
Ibu KepSek     :”silahkan duduk jum”
Saya                :”ya ... bu, terimakasih”( sambil melihat ekspresi Ibu kepala Sekolah, kira-kira apa yang akan di sampaikan ibu kepsek dalam hati saya bertanya,) dan ternyata Ibu wali Kelas saya, juga ada disitu.
Ibu KepSek     :” kamu tahu? Kenapa Ibu memanggil kamu kesini?”
Saya                :“tidak bu, apakah ada kesalahan yang saya lakukan, bu, maaf kalau saya kurang ajar maupun mengecewakan melakukan kesalahan, Ibu Kepala Sekolah, dan Ibu wali kelas, sungguh saya tidak tahu bu”
Ibu KepSek     :” kamu tidak salah kok, Ibu hanya mau Tanya, seandainya kamu lulus dengan nilai yang sempurna, kamu mau malanjutkan sekolah dimana?”
Saya                :“saya tidak tahu bu, hasilnya saja saya belum tahu, tapi seandainya saya lulus juga saya tidak tahu bisa tidak melanjutkan sekolah, bu, ibu tahu sendiri di SD saja saya tidak mampu membayar sekolah, semua ini Bantuan dari Ibu Kepala Sekolah sehingga sampai sekarang ini, walupun saya tidak tahu hasil nya soal nilai EBTANAS, saya berterimakasih saya bisa sekolah hingga saat ini, bisa berhadapan dengan Ibu, saya mengucapkan banyak terimakasih sama ibu, yang telah membant saya”
Ibu wali kelas  :“jum, kamu dipanggil sama Ibu Kepala Sekolah itu, supaya kamu bisa melanjutkan sekolah kamu, seandainya kamu tidak mampu membiayai, Ibu kepala sekolah akan membantu kamu, tapi Ibu kepala sekolah bisa membantu kamu asalkan kamu sekolah di SMP mukhammadiya, yang ada di seberang itu, bagaimana”
Saya                :”iya ibu, saya begitu banyak-banyak ucapkan terimakasih ibu, bagaimana cara membalas ini semua kepada Ibu kepala sekolah dan ibu wali kelas, hanya Alloh swt yang bisa membalas kebaikan Ibnu semua, maaf Ibu bukanya saya menolak, tetapi saya harus bicarakan ini kepada orang tua saya, dan saya juga belom tahu apakah nilai saya bagus atau tidak”
Ibu KepSek :” selamat ya, kamu juara 3 dikelas ini, Nilai EBTANAS kamu, bagus sekali, Ibu tidak menyangka, kamu bisa mengejar itu semua, waulupun waktu kamu habis untuk berjualan tetapi kamu bisa menjadi juara”
Saya                :” alhamdulillah apa yang saya harapkan terkabul, tidak sia-sia apa yang saya perjuangkan selama ini bu, terimakasih bu, ya sudah ibu saya pamit saya mau kabar gembira ini kepada orang tua saya, assalamu’alaikum”
Ibu guru dan Ibu kepSek serentak sambil senyum menyambut salam saya “ wa’laikum salam”
Ini hanya segelintir cerita pendek dari kisah perjalanan hidup saya yang sejatinya bahwa sebuah kehidupan apabila suatu permasalah serumit apapun apabila kita ikhlas dan sabar menghadapinya niscaya akan ada hikmah dibalik kesedihan dan kesulitan, kuncinya adalah sabar, ikhlas menerima segala apa yang menjadi ujian didalam hidup kita, Alloh swt tidak pernah tidur dan tidak pernah menelantarkan hambanya yang ikhlas dan sabar dalam menjalani Ujia-ujia-Nya.dan semua ujian itu  sesuai dengan kemampuan kita, Alloh swt tidak memberikan Ujian melewati batas kemampuan kita.
Sabar dan ikhlas, terus berusaha dan berdoa untuk menjalani Kehidupan yang hanya sebentar ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PENYABAR, DAN APA ADANYA